Bantah Flyover Cengkareng Retak, PUPR: Pemeliharaan Jembatan

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Flyover Rawa Buaya pada Kamis pagi, 27 Desember 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Flyover Rawa Buaya pada Kamis pagi, 27 Desember 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Sugiyartanto membantah jika flyover atau jalan layang Rawa Buaya di ruas Lingkar Luar Barat, Jakarta Barat dalam kondisi retak. Kabar retaknya jalan akses menuju Bandara Soekarno-Hatta, Banten tersebut tersiar sejak Rabu sore, 26 Desember 2018 sehingga Wali Kota Jakarta Barat Rustam Effendi memerintahkan jajarannya untuk menutup sementara jalan layang ini.

    BACA: Penjelasan PUPR Soal Penyebab Pergeseran Beton Flyover Rawa Buaya

    "Ceritanya bukan retak itu, tapi ada kegiatan yang namanya pemeliharaan jembatan," kata Sugiyartanto saat ditemui di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta Selatan, Kamis, 27 Desember 2018. Pemeliharaan dilakukan karena umur jembatan yang juga sudah memasuki mencapai 10 tahun sejak dibangun pada 2008.

    Kabar soal retaknya ruas jalan ini tersiar lewat foto-foto di media sosial yang menunjukkan adanya renggangan antar sambungan jembatan. Rustam juga sempat mengecek langsung kondisi jalan layang ini. "Struktur bawahnya kurang kuat. Ini tidak mungkin dilewati oleh kendaraan. Oleh karena itu kami tutup flyover ini untuk menyelamatkan biar pengguna jalan tidak terkena musibah," ujar Rustam.

    Tapi menurut Sugiyartanto, renggangan itu sebenarnya diisi oleh karet penghubung. Nah, karet inilah yang sedang diganti sehingga ruas jalan pun tampak terpisah.

    BACA: Flyover Rawa Buaya Ditutup, Pengguna Jalan Diimbau Lewat JORR

    Pemeliharaan saat ini dilakukan oleh Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional VI Ditjen Bina Marga. Selain penggantian karet penghubung, Balai juga mengganti cakram atau dudukan antara struktur atas dan bawah flyover alias pot bearing pada pier atau tiang jembatan nomor 4 dan nomor 8. "Hanya itu saja sebenarnya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," kata dia.

    Menteri PUPR Basuki Hadimuljono juga menjelaskan bahwa konstruksi renggang itu biasa diterapkan pada infrastruktur lainnya. "Karena kalau liat LRT (Lintas Rel Terpadu), semuanya kan enggak rapat (menyatu) juga." Konstruksi seperti ini, kata Basuki, menyesuaikan dengan kondisi panas dan dingin yang membuat bangunan bisa menyusut maupun memuai.

    Untuk itulah, kata Basuki, bagian renggang itu disambungkan dengan karet penghubung. Walau demikian, Basuki memastikan pemeliharaan dan penggantian karet baru ini tidak akan berlangsung lama, hanya dua minggu saja terhitung dari Kamis, 20 Desember 2018. Dengan begitu, jalan layang yang kini ditutup bisa dibuka lagi paling cepat 3 Januari 2019.

    Baca berita tentang Flyover lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.