Video Keluarga Khong Guan, Tim Kampanye: Pak Jokowi Senang Banget

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bakal calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Maruf Amin tiba untuk mengikuti pengundian dan penetapan nomor urut pada Pemilihan Presiden 2019 di kantor KPU, Jakarta, Jumat 21 September 2018. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

    Bakal calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Maruf Amin tiba untuk mengikuti pengundian dan penetapan nomor urut pada Pemilihan Presiden 2019 di kantor KPU, Jakarta, Jumat 21 September 2018. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Jokowi - Ma'ruf, Ipang Wahid mengatakan pembuatan iklan video keluarga Khong Guan dilakukan oleh timnya. Selain video keluarga Khong Guan, timnya sedang menyiapkan konten kampanye kreatif Jokowi-Ma'ruf lainnya.

    Baca: Ipang Wahid, Sosok di Balik Viral Video Keluarga Khong Guan

    "Ini baru satu, ada banyak lagi yang kita siapkan," ujar Ipang kepada Tempo di bilangan Menteng, Jakarta pada Selasa, 25 September 2018.

    Ipang bercerita, video tersebut sebetulnya telah selesai dikerjakan sekitar sepekan yang lalu. Setelah itu langsung ditunjukkan kepada Presiden Jokowi. "Pak Jokowi senang banget, menurut beliau ini adalah kampanye yang kreatif dan cerdas, seperti arahan beliau" ujar Ipang.

    Setelah itu, ujar Ipang, video tersebut disetujui untuk menjadi bahan kampanye dan siap dilepas ke media sosial. Baru kemarin dilepas, ujar Ipang, video Khong Guan ini mendadak super viral di sosial media maupun media online. "Itu kemarin, saya lepas waktu makan siang jam 1, lalu jam 4 sudah jadi trending. Padahal kita belum pake kekuatan media sosial kita. Apalagi kalau kita genjot," ujar Ipang.

    Dalam video berdurasi 1 menit 50 detik tersebut, ada cerita tentang dua anak yang mirip tokoh di logo kaleng Khong Guan, mengadu malu kepada ibu mereka akan cibiran netizen soal sosok ayah yang tidak pernah ditampilkan dalam logo Khong Guan.

    Kemudian, tokoh Ibu dalam video tersebut ingin menyampaikan alasan mengapa sosok ayah tak pernah ada dalam gambar itu. “Sebenarnya ibu ingin mengatakan yang sesungguhnya pada kalian tapi ibu takut. Ibu takut dibilang kampanye. Ayahmu sekarang tidak nganggur lagi, Nak,” ujarnya dalam video itu.

    Setelah kedua anaknya mendesak, akhirnya sang ibu menceritakan soal ayah mereka sudah bisa bekerja akibat program pemerintahan Presiden Jokowi. Sehingga, membuat keluarga mereka bisa makan dengan makanan yang lebih enak. Sang ibu menceritakan bahwa pemerintah berhasil menurunkan angka pengangguran hingga 5,13 persen. Selain itu, pemerintah juga bisa mengurangi angka kemiskinan hingga satu digit yang merupakan angka terendah sepanjang sejarah.

    Ipang mengatakan, data tersebut diungkapkan bukan tanpa alasan. Sebab belakangan, ujar dia, banyak data yang tidak sesuai kenyataan menjadi konsumsi publik, sehingga perlu diluruskan. "Jadi, data-data yang sebenernya dimasukkan dalam konten kreatif. Enggak usah berat-berat, yang penting nempel di kepala orang," ujar pria yang sudah 30 tahun berkecimpung di dunia periklanan tersebut.

    Ide dari iklan tersebut, ujar Ipang, juga bukanlah ide yang didapat dalam sekali lamunan. Melainkan, melalui berbagai riset dan uji coba, juga melewati diskusi sebelum dilepas ke sosial media. "Exercise-nya banyak, kemudian ternyata yang kelihatannya paling menarik adalah Khong Guan ini. Kita pake lah, karena semua orang sudah tahu, sudah paham," ujar Ipang.

    Simak juga: Cerita Ipang Wahid di Balik Pembuatan Video Keluarga Khong Guan

    Belajar dari video keluarga Khong Guan, ujar Ipang, dia optimistis akan ada banyak data yang bisa dinarasikan dengan sederhana dan dimengerti banyak orang lewat konten seperti video ini. "Anak saya saja, bikin social studies, mengutip data ini. Dia kelas 5 SD lho, dan data ini nempel di kepala dia," ujar Ipang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.