Sentimen The Fed, Rupiah Rawan Berbalik Melemah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi mata uang dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Rupiah mampu menguat pada akhir pekan lalu. Penguatan yang terjadi lebih disebabkan oleh pelemahan dolar Amerika Serikat yang hanya bersifat jangka pendek.

    Dalam perdagangan hari ini, Kepala Riset NH Korindo Securities Reza Priyambada mengatakan rupiah berpeluang berbalik melemah, apabila sentimen global cenderung lebih banyak direspons pelaku pasar dibandingkan dengan sentimen dari dalam negeri.

    "Rupiah berada dalam rentang support 13.257 dan resistan 13.210. Cermati sentimen yang ada, yang mampu mempengaruhi laju rupiah," ujar Reza Priyambada dalam pesan tertulisnya, Senin, 29 Agustus 2016.

    Pelemahan laju dolar AS menjelang pertemuan FOMC pada akhir pekan lalu masih memberikan sentimen positif pada laju pergerakan mata uang Asia dan beberapa mata uang global.

    Laju rupiah pun ikut terbantu sentimen pelemahan dolar AS, sehingga dapat berbalik menguat. Pelemahan dolar AS tersebut lebih disebabkan oleh adanya aksi ambil untung menjelang pidato Janet Yellen.

    "Kami melihat, pelemahan dolar AS ini hanya sementara, apalagi jika nantinya statement Janet Yellen cenderung hawkish dan mampu menopang laju dolar AS untuk berbalik menguat," ujar Reza.

    Sebelumnya, Reza menyampaikan, adanya sentimen positif terkait Paket Kebijakan Ekonomi XIII, direspons positif oleh pelaku pasar, sehingga pergerakan rupiah pada perdagangan akhir pekan lalu mampu bertahan dari pelemahan dalam beberapa hari sebelumnya dan menguat tipis 0,1 persen.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.