OJK Perketat Monitoring Sejumlah Perusahaan Asuransi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (Ki-ka) Dirut Asuransi Jasindo Budi Tjahyono, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Non-Bank (OJK) Firdaus Djaelani dan Deputi Komisioner IKNB 2 OJK Dumoli Pardede, di konferensi pers pembayaran asuransi korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 di kantor OJK gedung Menara Merdeka, Jakarta, 9 Januari 2015. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    (Ki-ka) Dirut Asuransi Jasindo Budi Tjahyono, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Non-Bank (OJK) Firdaus Djaelani dan Deputi Komisioner IKNB 2 OJK Dumoli Pardede, di konferensi pers pembayaran asuransi korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 di kantor OJK gedung Menara Merdeka, Jakarta, 9 Januari 2015. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Bidang Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank II Dumoly Freddy Pardede mengkonfirmasi bahwa ada beberapa perusahaan asuransi yang diawasi lebih intensif. Mereka kini tengah dalam proses monitoring ketat. “Bukan pengawasan khusus, melainkan monitoring ketat,” ujarnya saat dihubungi Tempo melalui pesan pendek, Selasa, 15 September 2015.

    Dumoly menuturkan perusahaan asuransi yang masuk daftar tersebut adalah perusahaan yang memiliki risk based capital (RBC) menyentuh 100-120 persen. RBC merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat kesehatan keuangan perusahaan asuransi.

    Ihwal perusahaan manakah yang dimaksud, Dumoly enggan memberi komentar. Ketika ditanya mengenai kondisi industri asuransi secara umum, Dumoly menegaskan, saat ini prospek asuransi berjalan normal disertai pertumbuhan premi secara konsisten. ”Relaksasi yang dikeluarkan baru-baru ini menyebabkan perusahaan asuransi dapat bergerak leluasa menjalanan bisnisnya,” katanya.

    Berdasarkan Laporan Kuartal Kedua Industri Asuransi Jiwa, yang dipublikasikan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), awal September lalu, pergerakan industri asuransi tetap berjalan positif di tengah perlambatan ekonomi.

    Industri asuransi mencatatkan total pendapatan premi asuransi jiwa, yaitu sebesar Rp 67,82 triliun, atau meningkat 26,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 53,58 triliun. Sebanyak 28,2 persen merupakan premi baru dan 25,4 persen adalah premi lanjutan.

    Sementara itu, total klaim atau manfaat yang dibayarkan perusahaan asuransi juga meningkat sebesar 31,6 persen menjadi Rp 43,16 triliun. AAJI pun menargetkan tingkat pertumbuhan pendapatan premi hingga akhir tahun akan dijaga agar tetap stabil di angka 20-30 persen.

    GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.