Awal Puasa, Rupiah dan Mata Uang Asia Lainnya Melemah

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengikuti sosialisasi ciri keaslian Rupiah di Kota Langgur, Maluku Tenggara, Maluku, 5 November 2018. Bank Indonesia menerima penukaran uang lama atau uang lusuh dengan kualitas fisik 3/4 bagian yang utuh. Artinya, bila ada uang kertas yang robek dalam 1/4 bagiannya, masih bisa ditukar ke uang baru. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha

    Warga mengikuti sosialisasi ciri keaslian Rupiah di Kota Langgur, Maluku Tenggara, Maluku, 5 November 2018. Bank Indonesia menerima penukaran uang lama atau uang lusuh dengan kualitas fisik 3/4 bagian yang utuh. Artinya, bila ada uang kertas yang robek dalam 1/4 bagiannya, masih bisa ditukar ke uang baru. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha

    TEMPO.CO, Jakarta - Memasuki masa awal puasa atau Ramadan ini, nilai tukar (kurs) Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta dilaporkan melemah. Pelemahan ini seiring dengan koreksi yang juga dialami sejumlah mata uang Asia.

    Baca: Usai Pilpres 2019, Rupiah Diperkirakan Menguat ke Rp 13.950

    Rupiah Senin pagi melemah 43 poin atau 0,3 persen ke posisi Rp14.309 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya Rp14.266 per dolar AS.

    Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, pelemahan Rupiah terjadi setelah Presiden AS Donald Trump kembali mengancam memberlakukan kenaikan tarif minggu ini.

    Mata uang Asia memang mayoritas melemah terhadap dolar AS. Yuan melemah 0,97 persen, dolar Hong Kong 0,01 persen, Won 0,72 persen, dolar Singapura 0,35 persen, dan Baht 0,19 persen. Sementara itu, Yen menguat terhadap dolar 0,54 persen.

    Lana memprediksi Rupiah hari ini masih berpotensi menguat menuju kisaran antara Rp14.240 per dolar AS hingga Rp14.260 per dolar AS.

    "Perjanjian dagang antara AS-Cina yang sudah berlangsung sejak pertengahan Februari lalu dinilai Presiden AS Trump  sangat lambat kemajuannya. Ia kembali mengancam Cina untuk memberlakukan tarif impor terhadap barang-barang impor dari Cina senilai 200 miliar dolar AS mulai minggu depan," ujar Lana di Jakarta, Senin, 6 Mei 2019.

    Ancaman terhadap Cina itu sendiri, merupakan upaya Trump untuk menekan segera terealisasinya perjanjian dagang tersebut. Trump menyebutkan ada upaya Cina untuk menarik beberapa kesepakatan sebelumnya dan melakukan renegosiasi.

    "Ancaman ini sebagai upaya Trump memaksa Cina untuk segera sepakat, namun pasar merespons negatif pernyataan Trump tersebut," Lana menambahkan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.