Luhut Tanggapi Pernyataan Prabowo soal Pendapatan per Kapita

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. Dok. TEMPO/Dhemas Reviyanto Atmodjo

    Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. Dok. TEMPO/Dhemas Reviyanto Atmodjo

    TEMPO.CO, Jakarta- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, membantah pernyataan Calon Presiden Prabowo Subianto, yang menyebutkan pendapatan per kapita masyarakat Indonesia US$ 1.300 per tahun. "Kok dia yang atur? Kan ada World Bank yang menilai," ujar Luhut di Kantor Kemenko Maritim, Kamis, 27 Desember 2018.

    BACA: Menteri Luhut Minta Ahli Selidiki Penyebab Tsunami Selat Sunda

    Selain menyebutkan pendapatan yang rendah, Prabowo juga menyamakan perekonomian Indonesia sama seperti negara-negara Afrika. Luhut menilai, pernyataan tersebut merupakan sebuah kebohongan, sehingga dia memberikan imbauan untuk para tokoh politik.

    Luhut mengimbau, untuk para tokoh politik, termasuk Prabowo, untuk menyampaikan informasi berdasarkan data. Sehingga tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. " Itu kan tidak elok jadi seolah-olah negeri kita ini dalam keadaan yang sangat sulit, tidak betul, sama sekali tidak betul," tutur Luhut.

    BACA: Kwik Kian Gie: Keuangan Negara Era Jokowi Terbebani Infrastruktur

    Prabowo menyebutkan pendapatakan perkapita Indonesia US$ 1.300 di Konferensi Nasional Partai Gerindra pertengahan Desember 2018 lalu, Prabowo juga menyebut penghasilan per kapita Indonesia saat ini sebenarnya hanya separuh dari angka resmi US$ 3.800 yakni kurang lebih US$ 1.900. "Artinya dibagi rata. Tapi 1.900 dipotong lagi utang. Iya, kita semua punya utang," ucap Prabowo, 17 Desember 2018.

    Prabowo lantas mencontohkan utang negara itu harus ditanggung oleh setiap warga. "Bahkan anakmu baru lahir, punya utang. Utangnya kurang lebih, US$ 600. Jadi iya, utang kamu itu US$ 600, sekitar Rp 9 juta," katanya. "Anakmu baru lahir, utang sudah 9 juta. Jadi kekayaan kita sebenarnya hanya 1.300 dolar per kapita."

    Lebih jauh Prabowo kemudian mencari perbandingan negara yang kondisi perekonomiannya mirip dengan Indonesia, yang memiliki penghasilan per kapita US$ 1.300. "Kita setingkat dengan Rwanda, Afghanistan yang perang sampai sekarang, Chad, Ethiophia. Chad sampai sekarang masih perang, Burkina Faso, laut aja enggak punya," katanya.

    Selain itu, Pada pidatonya di gedung Majelis Tafsir Al Quran atau MTA Solo Ahad pekan lalu, dia mengatakan masih banyak penduduk Indonesia yang hidup pas-pasan. Dia menyebut kondisi Indonesia saat ini berada setingkat dengan negara-negara miskin lainnya di Benua Afrika.

    Beberapa negara miskin yang disebut Prabowo antara lain Haiti dan Rwanda. "Kita (Indonesia) setingkat dengan negara miskin di benua Afrika: ada Rwanda, Haiti dan pulau-pulau kecil Kiribati, yang kita tidak tahu letaknya di mana," kata Prabowo.

    Pernyataan Prabowo tersebut, menurut Luhut adalah sebuah kebohongan. "Indonesia bahkan kemarin dari Bloomberg brasil memimpin negara emerging market di tahun 2019," ucap Luhut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.