Kurs Rupiah di Pasar Spot Melemah ke Level Rp 13.890 per Dolar AS

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menghitung mata uang rupiah hasil jual mata uang dolar, di money changer. Mata uang rupiah kini semakin melemah akibat krisis global.  Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    Warga menghitung mata uang rupiah hasil jual mata uang dolar, di money changer. Mata uang rupiah kini semakin melemah akibat krisis global. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Hari ini kurs rupiah menyentuh posisi Rp 13.888 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Data yang diterbitkan Bank Indonesia pagi ini menunjukkan angka tersebut menguat 12 poin atau 0,09 persen dari posisi Rp 13.900 kemarin.

    Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau berbalik melemah 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp 13.890 per dolar AS pada pukul 10.23 WIB. Rupiah sebelumnya dibuka menguat 8 poin atau 0,06 persen di posisi Rp13.881 per dolar AS, setelah ditutup rebound 86 poin atau 0,62 persen di level Rp 13.881 per dolar AS pada perdagangan kemarin.

    Baca: Darmin Nasution: Akan Ada Keseimbangan Baru Nilai Tukar Rupiah

    Berdasarkan data Bloomberg, sepanjang perdagangan pagi ini rupiah bergerak pada kisaran Rp 13.880 - Rp 13.890 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang dunia terpantau menguat 0,07 persen atau 0,067 poin ke level 90.833 pada pukul 10.23 WIB.

    Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla mengimbau agar publik untuk tidak khawatir secara berlebihan atas pelemahan rupiah yang terjadi akhir-akhir ini. Pasalnya, pelemahan rupiah terjadi karena faktor eksternal dan juga dialami oleh mata uang negara-negara lain di Asia.

    “Seperti dijelaskan oleh Bank Indonesia hampir semua mata uang di Asia melemah terhadap dolar AS. Dana-dana investasi itu kembali ke Amerika sehingga menyebabkan mata uang di Asia ini melemah. Itu terjadi semua berarti faktor eksternal. Kita tidak perlu khawatir berlebihan,” ujarnya di Kantor Wakil Presiden, Selasa, 24 April 2018.

    JK mengatakan saat nilai rupiah melemah selalu ada efek positif dan negatif. Pelemahan rupiah, kata dia, bagus untuk ekspor tapi tidak baik untuk impor. Sehingga industri yang bergantung pada bahan baku impor tentu akan menghadapi masalah. “Tapi ekspor tentu justru diuntungkan. Jadi selalu ada balance-nya kalau bicara tentang kurs itu,” ujarnya.

    Ke depan, menurut Kalla, agar Indonesia tak terlalu terpengaruh dengan pelemahan rupiah, pemerintah akan memperkuat ekspor untuk memperkuat devisa negara. Hal itu dilakukan dengan mempertahankan posisi perdagangan yang baik dengan negara-negara mitra. Misalnya, dengan melakukan rapat intensif antara kementerian terkait untuk mempercepat semua perundingan perdagangan bebas seperti dengan Uni Eropa dan Australia.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.