Analis Sebut 2 Penentu Pergerakan IHSG di Kuartal II

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Layar pergerakan Index Harga Saham Gabungan di Jakarta, Jumat, 22 Januari 2021. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di zona merah dengan pelemahan 1,66 persen atau 106,76 poin ke level 6.307,13. Tempo/Tony Hartawan

    Layar pergerakan Index Harga Saham Gabungan di Jakarta, Jumat, 22 Januari 2021. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di zona merah dengan pelemahan 1,66 persen atau 106,76 poin ke level 6.307,13. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta -Sederet sentimen digadang-gadang oleh para analis akan menjadi motor pergerakan indeks harga saham gabungan atau IHSG pada kuartal II/2021.

    Analis Indo Premier Sekuritas Mino mengatakan dua hal yang paling ditunggu dan menjadi penentu pada kuartal II/2021. Pertama, data laporan keuangan emiten pada kuartal I/2021 dan kedua data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini.

    “Kalau dua data di atas bagus harusnya market bisa rebound di kuartal II/2021,” katanya, Jumat, 2 April 2021.

    Baca Juga: Berbagai Teror di Masa Pandemi, Investor Was-was Ekonomi Tak Segera Pulih

    Di sisi lain, Mino menilai perkembangan pandemi semakin terkendali dan proses vaksinasi juga terpantau lancar dengan penambahan vaksinasi rata-rata per minggu sebanyak 400.000 vaksinasi sehingga akan menjadi katalis positif bagi indeks.

    “Dua-duanya sejauh ini positif, tidak ada lonjakan kasus baru,” imbuhnya. Secara terpisah, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Anthony Kevin menyebut, meski menjadi salah satu katalis rebound IHSG pada akhir Maret, indeks manufaktur menurutnya akan kembali terkoreksi pada April 2021.

    "Kami melihat aktivitas manufaktur memasuki bulan April akan mengalami kontraksi, salah satu sebabnya adalah respon dari kenaikan yang terjadi," katanya dikutip dari laporan pada Jumat.

    Prospek sisi pasokan, lanjut dia, pada bulan April diprediksi tetap menguat. Namun, hal ini tidak akan diikuti dengan pertumbuhan permintaan. Dia menjelaskan, data-data terbaru masih menunjukkan adanya tekanan terhadap daya beli. Hal itu tecermin dari penurunan angka penjualan eceran.

    "Selain itu, angka inflasi inti juga terus mengalami penurunan, hal ini memastikan bahwa daya beli masyarakat tetap rendah," paparnya. Kevin memproyeksikan tingkat permintaan masyarakat akan tetap rendah di masa ramadan.

    Kondisi akan tetap berlanjut memasuki masa perayaan Idul Fitri. "Rendahnya daya beli masyarakat terjadi seiring dengan pemangkasan hari libur yang dilakukan pemerintah," jelasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.