Rabu, 14 November 2018

Rupiah Melemah, Transaksi Kartu Kredit BCA dan BNI Akan Terimbas?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai bank menghitung uang dolar Amerika Serikat pecahan 100 dolar dan uang rupiah pecahan Rp 100 ribu di kantor pusat Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 20 Agustus 2018. Nilai tukar rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, 20 Agustus 2018, bergerak melemah 20 poin ke level Rp 14.592 dibanding sebelumnya Rp 14.572 per dolar Amerika. TEMPO/Tony Hartawan

    Pegawai bank menghitung uang dolar Amerika Serikat pecahan 100 dolar dan uang rupiah pecahan Rp 100 ribu di kantor pusat Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 20 Agustus 2018. Nilai tukar rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, 20 Agustus 2018, bergerak melemah 20 poin ke level Rp 14.592 dibanding sebelumnya Rp 14.572 per dolar Amerika. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan terakhir diperkirakan bakal memberikan dampak negatif terhadap bisnis kartu kredit perbankan. Terutama transaksi kartu kredit untuk kegiatan pelesir ke luar negeri merosot karena fluktuasi kurs.

    Baca: Kemenag Respons Tudingan Anwar Nasution soal Haji Lemahkan Rupiah

    Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Santoso menyebutkan, salah satu kontributor transaksi kartu kredit adalah belanja di luar negeri. Secara industri hal itu menyumbang sekitar 10 persen kepada total nilai transaksi kartu kredit.

    Sementara itu, BCA mencatat 15-20 persen nilai transaksi kartu kredit disumbang oleh nasabah yang berkunjung ke luar negeri. “Pengaruh pasti ada, tapi menurut saya masih manageable,” katanya, belum lama ini.

    Santoso menyampaikan, nasabah BCA yang menggunakan kartu kredit di luar negeri tergolong sehat secara finansial. Mereka juga dikategorikan sebagai nasabah yang cermat mengatur transaksi.

    Meski begitu, Santoso mengaku lebih khawatir pelemahan nilai mata uang memberikan dampak negatif kepada industri perbankan secara keseluruhan. Saat ini, tercatat pertumbuhan kartu kredit cenderung stagnan. Pada akhirnya hal ini berpotensi menambah rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL). 

    Setiap bank perlu terus menambah basis konsumen secara hati-hati untuk mengakali peningkatan nilai kredit bermasalah. “Bisnis kartu kredit masif itu seperti ember bocor. Bank harus isi air lebih cepat sehingga bisa mendapatkan benefit yang lebih besar,” kata Santoso.

    Sementara itu, General Manager Kartu Kredit PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Okki Rushartomo mengatakan, sekitar 12 persen transaksi kartu kredit perseroan digunakan oleh nasabah untuk tujuan ke luar negeri. Sektor pelesiran, menurut dia, merupakan salah satu andalan BNI dalam bisnis kartu kredit.

    Apabila pelemahan nilai tukar berlanjut, Okki menilai, dalam jangka panjang bisnis kartu kredit akan terkena dampak seiring dengan kenaikan harga tiket dan hotel. “Saat ini memang belum berdampak langsung, tapi nanti konsumen akan lebih memilih dalam melakukan transaksi kartu kredit,” katanya, belum lama ini.

    BNI masih mengkaji sejauh mana dampak pelemahan rupiah terhadap kartu kredit. Akan tetapi perseroan masih optimistis target nilai transaksi tumbuh dua digit pada tahun ini menjadi Rp 40 triliun bakal tercapai.

    Baca: Bank Dunia: Pemerintah dan BI Respons Pelemahan Rupiah Cukup Baik

    Selain hotel dan harga tiket pesawat, menurut Okki, konsumen kartu kredit akan mengurangi belanja di luar negeri karena tren pelemahan rupiah tersebut. Namun, nasabah akan mencari alternatif yang lebih murah, termasuk mengubah tujuan belanja di dalam negeri.

     BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?