Bantah Anwar Nasution, Kemenag: Kecil Kebutuhan Dolar untuk Haji

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jutaan jemaah Haji berkumpul untuk melakukan ibadah wukuf di Padang Arafah saat menunaikan ibadah Haji di luar kota suci Mekah, Arab Saudi 20 Agustus 2018. Wukuf adalah puncak ibadah haji yang jatuh pada 9 Zhulhijjah atau 20 Agustus 2018 sehingga Idul Adha, 10 Zhulhijjah akan jatuh pada Selasa 21 Agustus 2018. REUTERS/Zohra Bensemra

    Jutaan jemaah Haji berkumpul untuk melakukan ibadah wukuf di Padang Arafah saat menunaikan ibadah Haji di luar kota suci Mekah, Arab Saudi 20 Agustus 2018. Wukuf adalah puncak ibadah haji yang jatuh pada 9 Zhulhijjah atau 20 Agustus 2018 sehingga Idul Adha, 10 Zhulhijjah akan jatuh pada Selasa 21 Agustus 2018. REUTERS/Zohra Bensemra

    TEMPO.CO, Jakarta -  Tudingan Deputi Senior Bank Indonesia Anwar Nasution yang mengatakan besarnya jumlah jamaah haji dan umrah menjadi salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah dibantah oleh Kementerian Agama. 

    Baca: Anwar Nasution Sebut Jumlah Jamaah Haji RI Turut Lemahkan Rupiah

    Direktur Pengelolaan Dana Haji dan Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu Kementerian Agama Ramadhan Harisman menepis tudingan bekas Deputi Senior Bank Indonesia Anwar Nasution yang mengatakan besarnya jumlah jamaah haji dan umrah menjadi salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah.

    "Kebutuhan valuta asing (valas) untuk operasional haji jauh lebih kecil ketimbang untuk impor migas," ujar Ramadhan, dikutip dari situs resmi Kementerian Agama, Selasa, 11 September 2018. Ia menyebut pembayaran utang korporasi yang jatuh tempo pada periode tertentu di tahun berjalan juga lebih besar dari biaya operasional haji.

    Ramadhan menyebut total biaya operasional penyelenggaraan ibadah haji reguler tahun ini sebesar Rp 14,1 triliun berupa mata uang rupiah dan riyal (SAR). Dari total angka tersebut, pembiayaan dalam mata uang Saudi sebesar SAR 2,1 miliar atau US$ 560 juta.

    Badan Pusat Statistik memaparkan total impor Indonesia di Juli 2018 mencapai US$ 18,27 miliar atau meningkat sebesar 62,17 persen. Impor tersebut disumbang dari sektor migas sebesar US$ 2,61 miliar dan sektor nonmigas sebesar US$ 15,65 miliar. Jika diakumulasi, nilai impor Indonesia pada Januari - Juli 2018 tercatat US$107,32 miliar.

    Selain itu Ramadhan menuturkan pembayaran operasional haji tidak digelontorkan langsung, melainkan secara bertahap dalam 4-5 bulan masa operasional haji. Sedangkan sisanya dibayar dalam bentuk rupiah, termasuk ongkos penerbangan haji.

    Adapun pembayaran setoran awal dan setoran pelunasan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) oleh jemaah juga menggunakan rupiah. “Dengan demikian, pada saat pembayarannya tidak berpengaruh terhadap kebutuhan SAR maupun USD dalam negeri,” tutur Ramadhan.

    Meski, Ramadhan tak memungkiri bahwa selama musim haji terjadi perpindahan devisa ke Arab Saudi. Namun, ia menilai semua negara mengalami hal sama mengingat pelaksanaan ibadah haji dan umrah hanya di Tanah Suci.

    Ramadhan juga mengatakan pemerintah berupaya mengimbanginya dengan distribusi ekonomi kepada warga Indonesia yang bermukim di Saudi. Setidaknya dengan membantu sebagian dari WNI yang pendapatannya amat bergantung dari pelaksanaan haji dan umrah, misalnya pebisnis makanan, hingga pedagang asal Indonesia.

    Sebelumnya, Anwar Nasution menjelaskan, yang dimaksud dengan banyaknya jumlah jamaah haji dan umrah malah menggerus devisa adalah karena pada akhirnya uang yang dikeluarkan oleh para jamaah hanya akan mengalir ke luar negeri. "Emang ada restoran padang di Mekah, misalnya? Enggak ada, kan? Paling warung-warung kecil. Ini yang salah, tidak dimanfaatkan dengan baik," kata dia. 

    Anwar juga mengatakan menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar juga dikarenakan fundamental ekonomi di Indonesia masih sangat lemah. Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia dianggap belum mampu menahan gejolak dari luar. "Bohong pemerintah itu mengatakan kalau fundamental ekonomi Indonesia kuat. Omong kosong," kata dia.

    Buktinya, kata Anwar Nasution yang juga mantan ketua Badan Pemeriksa Keuangan ini, rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) masih rendah yang berada di angka 10 persen. Jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya yang berada di angka 20 persen, rasio penerimaan pajak Indonesia hanya setengahnya.  "Padahal kita udah 73 tahun merdeka. Ngapain merdeka kalo ngutang melulu, pinjam melulu," ujar dia. 

    Lebih jauh, Anwar menilai ekonomi Indonesia saat ini sangat rawan terhadap gejolak dari luar negeri yang menyebabkan jika bunga meningkat maka biaya pembayaran utang di Indonesia juga meningkat. Selain itu, jika kurs meningkat juga mengakibatkan naiknya harga suatu komoditas. "Tempe, itu harganya naik karena impor kedelainya," tutur dia. 

    Baca: Bantah Anwar Nasution, Ekonom: Ada 4 Ukuran Fundamental Ekonomi

    Anwar Nasution juga mengatakan lembaga keuangan dalam yang ada di Indonesia juga dinilai masih sangat lemah. Lembaga keuangan yang dimaksud yaitu bank pemerintah seperti empat bank negara (BUMN). "Maksudnya 4 bank negara ini enggak bisa lawan bank-bank seperti CIMB, Maybank dan juga Development Bank of Singapore."

    CAESAR AKBAR | KARTIKA ANGGRAENI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.