Kamis, 20 September 2018

Bantah Anwar Nasution, Ekonom: Ada 4 Ukuran Fundamental Ekonomi

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ini data Bank Dunia soal kontribusi 3 sektor ekonomi pada pertumbuhan GDP Nasional sejak 2007-2017

    Ini data Bank Dunia soal kontribusi 3 sektor ekonomi pada pertumbuhan GDP Nasional sejak 2007-2017

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Permata Bank Josua Pardede angkat bicara menanggapi pernyataan mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Anwar Nasution. Ia membantah pernyataan Anwar soal fundamental ekonomi nasional yang lemah.

    Baca: Anwar Nasution Sebut Jumlah Jamaah Haji RI Turut Lemahkan Rupiah

    Menurut Josua, ukuran kuat atau tidaknya kondisi fundamental ekonomi suatu negara tidak dapat digambarkan oleh satu sampai dua indikator makro ekonomi saja. Selain itu, perlu melihat tren ukuran atau indikator makro dan bagaimana koordinasi kebijakan fiskal dan moneter berkoordinasi, sehingga tercermin dari indikator ekonomi yang stabil dan sustainable.

    "Fundamental ekonomi Indonesia yang kuat ini juga memperkuat keyakinan investor dan pelaku ekonomi secara keseluruhan, bahwa kondisi fundamental yang kuat ini akan membuat ketahanan ekonomi akan teruji, sehingga dapat bertahan dan dapat meredam seluruh risiko eksternal," kata Josua saat dihubungi, Senin, 10 September 2018.

    Josua menjelaskan, indikator pertama yang perlu dilihat dalam menilai fundamental ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi cenderung stabil di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir dan terjadi perbaikan struktur di sisi pengeluaran. Artinya, ada andil dari investasi pada pertumbuhan ekonomi cenderung meningkat seiring implementasi kebijakan struktural dalam kurun empat tahun terakhir.

    Indikator kedua, kata Josua, yakni laju inflasi. Tingkat inflasi yang cenderung stabil dan dalam tiga tahun terakhir realisasi inflasi dan bahkan cenderung terkendali di bawah sasaran inflasi Bank Indonesia merupakan hal positif.

    Menurut Josua, hal itu menunjukkan langkah koordinasi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah berhasil. Walhasil, konsumsi tetap tumbuh dan daya tarik pasar keuangan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain dengan tingkat inflasi yang tinggi. Dalam situs resmi BI tercatat Inflasi Agustus sebesar 3,2 persen, sedangkan target inflasi tahun ini sekitar 3,5 persen.

    Adapun indikator ketiga yang diperhatikan adalah pengelolaan fiskal. Selama empat tahun terakhir Josua menilai pengelolaan fiskal semakin baik, produktif dan berkualitas. "Di mana reformasi perpajakan yang dikombinasikan dengan produktivitas belanja terindikasi dari semakin berkualitasnya belanja karena realokasi belanja subsidi ke belanja produktif, seperti infrastruktur," katanya.

    Pengelolaan fiskal yang semakin baik terindikasi dari terkendalinya defisit APBN kurang dari 3 persen terhadap PDB, serta pengelolaan utang yang kurang dari 30 persen. Selain itu, defisit keseimbangan primer yang berhasil diturunkan pemerintah dan berpotensi berbalik positif dalam jangka pendek-menengah mendorong konfirmasi layak investasi pada Indonesia yang baru diperoleh kembali dalam 1-2 tahun terakhir ini.

    Selain itu, ada indikator kempat yang harus diperhatikan yakni soal utang luar negeri. Josua melihat pengelolaan utang luar negeri juga semakin baik ditunjukkan dengan rasio utang luar negeri terhadap PDB kurang 35 persen. Angka itu cenderung menurun dari posisi 1998 di mana pengelolaan utang luar negeri tidak prudent sehingga mendorong krisis pada waktu itu.

    Sementara permasalahan defisit transaksi berjalan yang terus dialami serta rasio pajak yang belum optimal, menurut Josua, memang salah satu hal yang masih perlu dibenahi oleh pemerintah. "Meskipun tidak dapat diselesaikan dalam jangka pendek, akan tetapi pemerintah perlu melakukan perbaikan antara lain dengan memperbaiki struktur industri sehingga mendorong produktivitas yang dapat mensubstitusi impor," kata Josua.

    Selain itu, kata Josua reformasi pajak yang sudah dilakukan pemerintah pun yang diawali dengan program tax amnesty. Program itu merupakan bukti bahwa pemerintah berkomitmen untuk memperluas basis pajak yang pada akhirnya diharapkan akan meningkatkan rasio pajak.

    "Jadi secara keseluruhan melihat indikator ekonomi Indonesia secara keseluruhan mengindikasikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia cenderung semakin kuat dan dikonfirmasi juga oleh tren perbaikan indikator ekonomi sosial seperti tingkat pengangguran yang menurun, tingkat kemiskinan yang melambat serta ketimpangan pendapatan yang semakin menurun," kata Josua.

    Baca: Anwar Nasution: Pemerintah Bohong Sebut Fundamental Ekonomi Kuat

    Pada Sabtu pekan lalu, Anwar Nasution mengatakan fundamental ekonomi di Indonesia masih sangat lemah. Buktinya, kata Anwar yang juga mantan ketua Badan Pemeriksa Keuangan ini, rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) masih rendah yang berada di angka 10 persen.

    KARTIKA ANGGRAENI


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Memecahkan Rekor Dunia di Berlin Marathon

    Eliud Kipchoge, pelari Kenya, memecahkan rekor dunia marathon dengan waktu 2 jam 1 menit dan 39 dalam di Marathon. Menggulingkan rekor Dennis Kimetto.