Kata Ekonom Soal Anwar Nasution Anggap Fundamental Ekonomi Lemah

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anwar Nasution. TEMPO/Imam Sukamto

    Anwar Nasution. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah mengatakan fundamental ekonomi Indonesia tidak lemah seperti kata mantan Deputi Senior Bank Indonesia Anwar Nasution.

    Baca juga: Anwar Nasution: Pemerintah Bohong Sebut Fundamental Ekonomi Kuat

     
    "Fundamental kita tidak lemah, cukup kuat. Tapi rentan," kata Piter saat dihubungi Ahad, 9 September 2018.

    Sabtu lalu, Anwar Nasution mengatakan fundamental ekonomi di Indonesia masih sangat lemah. Buktinya, kata Anwar yang juga mantan ketua Badan Pemeriksa Keuangan ini, rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) masih rendah yang berada di angka 10 persen. .

     
    Piter mengatakan banyak indikator yang biasanya dijadikan ukuran bagus atau tidaknya fundamental ekonomi suatu negara. Menurut Piter, utamanya adalah pertumbuhan ekonomi yang mencirikan bagaimana kegiatan ekonomi di negara tersebut berjalan.
     
    Menurut Piter, pertumbuhan ekonomi sudah merangkum semua kegiatan ekonomi, mulai dari konsumsi, investasi sampai dengan kegiatan ekspor dan impor suatu negara.
     
    Kemudian inflasi, kata Piter, sebagai ukuran yang akan mendiskon pertumbuhan ekonomi. Piter mengatakan kalau pertumbuhan ekonomi tinggi dengan inflasi tinggi, artinya secara riil ekonomi suatu negara tidak ada kemajuan. Namun, hal tersebut tidak terjadi di Indonesia saat ini.
     
    "Dua indikator ini yang biasanya menjadi argumentasi pemerintah bahwa fundamental ekonomi kita kuat," kata Piter.
     
    Piter mengatakan ada satu lagi indikator yang menjadi ukuran baik atau tidaknya fundamental ekonomi, yaitu transaksi berjalan. Indikator ini, kata Piter menjelaskan bagaimana perekonomian dibiayai. Rumusan teoritisnya adalah current account sama dengan saving atau menabung dikurangi investasi atau investment.
     
    Menurut Piter, transaksi berjalan menggambarkan selisih antara saving dan investment di suatu negara. Kalau saving negara lebih kecil daripada investasi yang dibutuhkan, kata Piter, transaksi berjalan akan defisit. Negara itu, menurut Piter, akan membutuhkan aliran modal asing untuk menutup defisit transaksi berjalan.

    Dampak dari aliran modal asing ini, kata Piter, menjadikan negara tersebut akan rentan terhadap kondisi global. "Saving investment gap sangat berkaitan dengan tax ratio, karena saving di sini termasuk juga saving-nya pemerintah. Tax ratio rendah, saving pemerintah rendah. Argumentasi ini yang secara sederhana digunakan pak Anwar Nasution untuk mengatakan fundamental ekonomi kita sesungguhnya tidak kuat," kata Piter.
     
    Piter mengatakan pertumbuhan ekonomi 5,1 persen dengan inflasi 3,5 persen, artinya ekonomi Indonesia cukup sehat dan kuat. Tetapi, defisit transaksi berjalan yang terjadi secara persisten menunjukkan ekonomi Indonesia fragile atau rentan. Hal itu terbukti selama setahun terakhir perekonomian Indonesia diombang ambingkan oleh gejolak global.
     
    "Menggunakan semua indikator di atas saya lebih memilih untuk mengatakan fundamental ekonomi Indonesia kuat tetapi fragile atau rentan," ujar Piter berbeda pendapat dengan Anwar Nasution.
     
    KARTIKA ANGGAENI
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.