Genjot Cadangan Devisa, Jokowi Bakal Jalankan 2 Strategi Ini

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi menyampaikan arahan disela-sela penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2017 dari Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Moermahadi Soerja Djanegara (kiri) di Istana Negara, Jakarta, Senin, 4 Juni 2018. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2017. TEMPO/Subekti.

    Presiden Jokowi menyampaikan arahan disela-sela penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2017 dari Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Moermahadi Soerja Djanegara (kiri) di Istana Negara, Jakarta, Senin, 4 Juni 2018. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2017. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi kembali menggelar rapat lanjutan pada hari ini guna membahas strategi meningkatkan cadangan devisa Indonesia.

    Baca juga: Minta Impor Disetop, Jokowi: Saya Gak Main-main

    Dalam rapat terbatas yang digelar di Istana Bogor itu, Presiden Jokowi menekankan kebutuhan prioritas Indonesia adalah mendatangkan dolar sebanyak-banyaknya ke dalam negeri. Pasalnya, penguatan cadangan devisa dibutuhkan untuk meningkatkan daya tahan ekonomi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

    "Saya minta dua hal utama yg perlu diperhatikan, yaitu pengendalian impor dan peningkatan ekspor," kata Presiden Jokowi, Selasa, 31 Juli 2018.

    Untuk itu, Jokowi meminta segera ada implementasi terkait kebijakan mandatori pemakaian biodiesel, karena berdasarkan perhitungannya penghematannya cukup signifikan. Tak hanya itu, Jokowi juga ingin mengevaluasi detail impor barang supaya dapat segera diklasifikasikan mana impor yang strategis dan impor yang tidak strategis.

    Baca juga: Jokowi Putuskan Tak Ubah Skema DMO Batu Bara

    "Kita stop dulu (impor), atau kurangi, atau hentikan," ujar Jokowi dengan tegas.

    Jokowi juga sempat menyinggung mengenai urgensi percepatan implementasi tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dan pertumbuhan industri barang substitusi impor guna menekan laju impor di Tanah Air.

    Khusus untuk ekspor, Jokowi menegaskan Indonesia harus memiliki strategi detail produk-produk yang harus diperkuat dan fokus melihat kendala eksportir di negara tujuan.

    "Situasi negara saat ini butuh dolar, karena itu saya minta seluruh kementerian dan lembaga serius, tidak ada main-main menghadapi ini. Saya gak mau lagi bolak balik rapat, tapi implementasi gak berjalan baik," ujar Jokowi.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).