Kamis, 15 November 2018

Industri Manufaktur di Daerah Ini Terpukul oleh Pelemahan Rupiah

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembuatan sepatu kulit di Pusat Industri Kecil, Jakarta, 7 Mei 2018. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang pada kuartal I-2018 naik sebesar 5,01 persen (year on year/yoy) disebabkan naiknya produksi industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, sebesar 18,87 persen. Tempo/Tony Hartawan

    Pembuatan sepatu kulit di Pusat Industri Kecil, Jakarta, 7 Mei 2018. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang pada kuartal I-2018 naik sebesar 5,01 persen (year on year/yoy) disebabkan naiknya produksi industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, sebesar 18,87 persen. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Kudus - Jebloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah mulai berdampak ke banyak industri manufaktur di Jawa Tengah. Hal itu disampaikan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, Frans Kongi.

    "Hampir 70 persen bahan baku yang digunakan oleh industri manufaktur di Jateng merupakan bahan baku impor," ujar Frans ketika ditemui usai menghadiri halal bihalal Dewan Pimpinan Apindo Kudus di Hotel Griptha Kudus, Rabu, 11 Juli 2018.

    Baca: Rupiah Bergerak di Kisaran Rp 14.340-14.400, Cenderung Menguat

    Akibat ketergantungan yang sangat tinggi terhadap bahan baku impor itu, menurut Frans, bakal berpengaruh terhadap biaya pokok produksinya menjadi semakin berat. Ia memperkirakan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa mempengaruhi daya saing produk di pasar internasional.

    Oleh karena itu, kata Frans, tentunya patut menjadi perhatian pemerintah agar sektor industri manufaktur tetap berproduksi secara berkelanjutan. "Masing-masing pelaku industri tentunya sudah sering menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar, tentunya sudah ada antisipasi agar tetap berproduksi," ujarnya.

    Baca: Rupiah Melempem, Industri Farmasi Dilema Naikkan Harga Produk

    Selain pelaku industri manufaktur dituntut berfikir kreatif dan efektif dalam mengambil strategi agar usahanya tetap berjalan dengan baik, menurut Frans, pengusaha juga harus berhemat. Hal ini terutama dalam penggunaan energi listrik agar harga jual produk di pasaran masih bisa bersaing dan kenaikannya juga tidak terlalu signifikan.

    "Pelaku industri juga dituntut bekerja efisien. Artinya, dengan bahan baku yang lebih sedikit bisa menghasilkan produk yang lebih banyak," ujar Frans. Ia juga berharap pemerintah bisa mempertimbangkan untuk memmberikan insentif khusus, terutama pada industri padat karya dalam bentuk keringanan pajak supaya tetap bisa bertahan.

    Frans menyebutkan sudah ada kepastian dari para pelaku usaha yang menghentikan sementara rencana perluasan investasinya karena mengantisipasi pelemahan rupiah saat ini. "Akan dihentikan sementara sambil menunggu pergerakan nilai tukar rupiah apakah semakin melemah atau mulai menguat," tuturnya.

    ANTARA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pokemon Hidup Dalam Detektif Pikachu

    Hollywood baru saja mengadaptasi karakter favorit dunia dari kartun Pokemon, Pikachu, ke dalam film layar lebar.