BRI Targetkan Fee Based Income Naik Hingga Dua Digit

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengikuti mudik bersama menggunakan moda transportasi bus yang digelar oleh PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Gelora Bung Karno, Jakarta, 29 Juni 2016. Tempo/Tony Hartawan

    Warga mengikuti mudik bersama menggunakan moda transportasi bus yang digelar oleh PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Gelora Bung Karno, Jakarta, 29 Juni 2016. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berencana menaikkan kontribusi pendapatan berbasis biaya atau fee based income terhadap pendapatan tahun ini. BRI menargetkan presentase kontribusi mencapai dua digit.

    Baca: Simak Penjelasan Bank BRI Sebelum Tagih Janji Anis DP Rp 0

    Direktur Utama BRI, Suprajarto, mengatakan fee based income berkontribusi sebesar 9,2 persen dari total pendapatan BRI di kuartal I 2017. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama 2016 yang hanya 7,8 persen. "Tahun ini kami ingin paling tidak kontribusinya 10 persen terhadap total pendapatan," kata dia di Gedung BRI I, Jakarta, Kamis, 20 April 2017.

    Ia mengatakan BRI memiliki banyak potensi fee based income yang belum digarap secara optimal. Salah satunya adalah agen Brilink.

    Baca: Likuiditas Ketat, BRI Akan Minta Relaksasi

    Saat ini BRI memiliki 97.500 agen BRILink. Hingga akhir tahun, BRI menargetkan penambahan hingga menjadi 130 ribu agen. Suprajarto mengatakan BRI juga akan mengoptimalkan outlet, EDC dan ATM.

    Selama kuartal I 2017, fee based income BRI mencapai Rp 2,5 triliun. Jumlahnya naik 29,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Suprajarto mengatakan penyumbang fee based income terbesar adalah simpanan yaitu sekitar 39 persen. Kontributor lainnya adalah fee terkait dengan e-banking yaitu sebesar 23 persen.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).