Pasokan Pakan Seret, Harga Ayam Melambung

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pekerja pabrik tengah memilih anak ayam, pabrik ini memproduksi ayam potong dalam jumlah yang sangat besar. Telur ayam dirawat hingga menetas, disortir kualitasnya, dipelihara hingga dewasa kemudian dipotong untuk diambil dagingnya. Naberezhnye Chelny, Rusia, 5 September 2015. Andrey Rudakov/Getty Images

    Sejumlah pekerja pabrik tengah memilih anak ayam, pabrik ini memproduksi ayam potong dalam jumlah yang sangat besar. Telur ayam dirawat hingga menetas, disortir kualitasnya, dipelihara hingga dewasa kemudian dipotong untuk diambil dagingnya. Naberezhnye Chelny, Rusia, 5 September 2015. Andrey Rudakov/Getty Images

    TEMPO.CO, Bandung - Ketua Perhimpunan Peternak Ayam Nasional (PPAN) Jabar, Herry Dermawan mengatakan, modal peternak tergerus karena harga pakan dan bibit naik. “Sekarang harga ayam tinggi, di kandang itu antara Rp 23.500 sampai Rp 24 ribu per ekor,” kata dia saat dihubungi Tempo, Kamis, 14 Januari 2016.

    Herry mengatakan, di tiap ekor ayam, peternak mengambil untung rata-rata Rp 2 ribu sehingga modal peternak tiap ekor ayam berkisar Rp 21. 500. “Tiga bulan lalu modal peternak itu antara Rp 18 ribu sampai Rp 19 ribu per ekor,” kata dia.

    Menurut Herry, kualitas pakan yang buruk dan naiknya harga bibit ayam atau DOC (Day Old Chicken) yang menggerus modal peternak ayam. Harga pakan naik gara-gara pasokan jaung seret, sementara bibit ayam naik dipicu kebijakan Kementerian Peternakan menekan produksi DOC agar tidak overy-suplay. Celakanya keduanya terjadi, nyaris bersamaan.

    Dia menuturkan, komponen utama pakan yakni jagung yang mayoritas dipasok dari importasi sempat dibatasi oleh Menteri Pertanian pada Agustus 2015 lalu kendati importasi kemudian dibuka lagi dalam jumlah terbatas pada sebulan kemudian setelah produsen pakan ternak protes. “Harga pakan naik, tapi kualitasnya jelek,” kata Herry.

    Herry mengatakan, produsen pakan ayam sempat mengurangi jagung dan menggantinya dengan gandum sehingga kualitas pakan anjlok. “Dulu satu kilogram ayam butuh 1,6 kilogram pakan, sekarang satu kilogram ayam butuh 1,9 kilogram pakan,” kata dia.

    Gara-gara itu, panen ayam yang biasanya 28 hari molor hingga 38 hari mengejar berat ideal ayam. Situasi itu sempat membuat pasokan ayam ke pasar turun. “Terlambat panen,” kata Herry.

    Nyaris berbarengan dengan pembatasan importasi jagung, Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian memulai pengawasan parent-stock, indukan ayam di produsen bibit untuk memastikan pasokan DOC tidak berlebih. “Pengurangannya bertahap dari 6 juta indukan, sekarang dikurangi jadi 4 juta indukan, sehingga produksi DOC berkurang,” kata Herry.

    Herry mengaku setuju dengan kebijakan itu. Dua tahun terakhir, peternak babak belur gara-gara produksi DOC berlebih membuat harga jual ayam anjlok karena kelebihan suplai. “Makanya ada kebijakan itu. Sekarang suplai sudah dianggap pas,” kata dia.

    Tapi peternak malah kesulitan mencari DOC sehingga harganya melambung. Herry menuding, mayoritas produsen bibit yang juga pelaku budi daya ayam sengaja memprioritaskan produksi bibit untuk kandang ayamnya sendiri. “Peternak susah mencarinya karena DOC dipakai sendiri dan breeding,” kata Herry.

    Herrry meminta pemerintah agar memastikan pasokan jagung untuk kebutuhan produsen pakan agar kualitas pakan tidak jadi korban. Kementerian Pertanian juga diminta memastikan transaparansi distribusi bibit ayam dengan adanya kebijakan pembatasan parent-stock perusahaan pembibitan.

    Kepala Dinas Peternakan Jawa Barat Doddy Firman Nugraha membenarkan. Harga ayam di pasar naik gara-gara harga ayam di kandang meroket. Penyebabnya naiknya harga pakan dan bibit ayam atau DOC. “Harga pakan naik karena bahan baku jagung sulit diperoleh pabrik pakan,” kata dia saat dihubungi Tempo, Kamis, 14 Januari 2015.

    Doddy membenarkan, adanya pembatasan Dirjen Peternakan, Kementerian Pertanian soal pengendalian parent-stock untuk memastikan keseimbangan permintaan dan produksi bibit ayam. “Sudah dua bulan ini berproses pengurangannya,” kata dia.

    Menurut Doddy, pekan depan akan mengumpulkan peternak, produsen pakan, termasuk perusahaan pembibitan untuk mengurai penyebab melonjaknya harga ayam. Direktorat Jenderal Peternakan juga tengah menelisik naiknya harga ayam di kandang yang berimbas pada harga ayam di pasar. “Ini terjadi tidak hanya di Jawa Barat,” kata dia.

    Doddy mengaku, sementara menunggu kejelasan soal penyebab kenaikan harga ayam tersebut, Dinas Peternakan memilih memastikan pasokan daging ayam dari peternak tetap terjaga. “Mudah-mudahan ada kesepakatan lagi,” kata dia.

    Pantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, harga daging ayam broiler di lima pasar tradisional di Kota Bandung yang jadi patokan pantauan perkembangan menunjukkan lonjakan harganya sudah terjadi selepas pergantian tahun. Harga daging ayam sejak sepanjang Januari 2016 ini bertahan diantara Rp 40 ribu hingga Rp 42 ribu perkilogram. Harga rata-rata daging ayam sepekan terakhir di Jawa Barat berkisar Rp 39.950 per kilogram.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.