Tak Dapat Sanksi Berat, Lion Dianggap Anak Emas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lion Air. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Lion Air. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat penerbangan, Dudi Sudibyo, menyayangkan sikap Menteri Perhubungan Ignasius Jonan yang tidak hadir di Bandar Udara Soekarno Hatta ketika kementeriannya sedang melakukan pemeriksaan terhadap Lion Air pekan lalu.

    Menurut dia, langkah Jonan terkesan lembek dalam meninjau kesalahan Lion Air. “Seolah-olah ada kesan dia pilih kasih,” ujar Dudi ketika dihubungi Tempo, Senin, 23 Februari 2015.

    Dudi mencontohkan sikap tak berimbang Jonan itu dalam kasus Air Asia. Ketika ada masalah dengan Air Asia, kata Dudi, Jonan langsung mendatanginya dan memberikan sanksi. “Jonan ini seperti dua mata pisau, seharusnya bisa berbuat adil,” ujarnya. “Jangan ada anak emas yang dimudahkan segala izinnya.”

    Menurut Dudi, Jonan bukan hanya menteri, melainkan juga wakil masyarakat. Lion Air sampai saat ini hanya diberi sanksi tidak diperbolehkan memperluas usaha, termasuk mengurus izin rute baru.

    Walau berharap Jonan tegas menindak Lion Air, Dudi mengakui bahwa jika sanksi yang dijatuhkan sangat berat, seperti pembekuan izin terbang atau pencabutan izin usaha, akan timbul gejolak di masyarakat. Pasalnya, Lion Air memegang lebih dari 50 persen pangsa pasar di Indonesia. "Jika izin usahanya dibekukan, nanti siapa yang bisa mengangkut para penumpang?"

    Karena itu, menurut Dudi, Menteri Jonan perlu berpikir tentang solusi sebelum memberikan sanksi yang lebih berat. Yang jelas, kata dia, pemerintah harus lebih ketat dalam mengawasi maskapai.

    DEVY ERNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.