Alasan Foxconn Hijrah dari Cina ke Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • digitaltrends.com

    digitaltrends.com

    TEMPO.CO, Shanghai - Foxconn Technology Group sedang menyiapkan relokasi pabrik manufaktur untuk produk menengah ke atas (high end) ke Amerika Serikat dan produk menengah ke bawah (low end) ke Indonesia. Pemasok utama komponen iPhones untuk Apple Inc asal Taiwan itu dikabarkan akan menambah kapasitas produksi dan merelokasi pabriknya dari Cina.

    Laporan Reuters menyebutkan, Amerika secara geografi akan mendekatkan Foxconn dengan Apple Inc, seiring rencana mereka untuk mengembangkan teknologi baru. Adapun ketertarikan Foxconn terhadap Indonesia sudah jelas. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, yakni sekitar 260 juta jiwa. Dengan didukung perjanjian perpajakan dan pakta perdagangan bebas dengan Cina, produk Foxconn bisa diproduksi dengan biaya lebih murah di Indonesia untuk kemudian diekspor bebas pajak ke Cina. (Baca juga : Foxconn Produksi BlackBerry di Indonesia)

    Jajaran pejabat tinggi Indonesia telah menyatakan bahwa Foxconn berencana menanamkan investasi besar senilai US$ 10 miliar dalam waktu lima tahun. Investasi itu rencananya dilakukan dengan mitra lokal, yakni PT Erajaya Swasembada Tbk. Pemerintah Indonesia juga memberi sinyal positif dengan menawarkan paket insentif perpajakan. Namun, Foxconn belum menyampaikan detail investasinya dan paket insentif apa saja yang diminta.

    “Kami melihat dalam lima tahun terakhir terjadi perpindahan produksi meninggalkan Cina menuju ASEAN dan India,” kata analis dari Dezan Shira & Associates, Chris Devonshire-Ellis. Perbaikan kualitas infrastruktur di Indonesia, Vietnam, dan India telah mengikis kesenjangan tingkat produktivitas dan biaya tenaga kerja dengan Cina. (Baca juga : Foxconn Investasi US$40 Juta di Amerika)

    Menurut Chris, sebuah perusahaan bisa memindahkan 70 persen produksi dari Cina ke negara-negara ASEAN seperti Indonesia. Di antara yang menjadi pertimbangan adalah biaya buruh yang lebih murah, sehingga relokasi masuk akal secara ekonomis dan finansial. “Inilah yang sedang dilakukan oleh Foxconn,” ujarnya.

    Pandangan senada disampaikan Manajer Investasi dari Mega Financial Holdings, Danny Lee. Dia menilai Foxconn punya pilihan selain memindahkan pabriknya dari Cina. “Cina tidak akan lagi menjadi basis produksi bagi banyak perusahaan di dunia. Khususnya untuk industri personal komputer,” ujarnya seperti dilansir Reuters. (Baca juga : Foxconn Dituduh Terapkan Kerja Paksa Siswa Magang)

    Ambisi Foxconn memang tidak main-main. CEO Foxconn, Terry Gou mengatakan perseroan menargetkan pendapatan meningkat berlipat menjadi T$ 10 triliun (US$ 333 miliar) dalam 10 tahun mendatang. Pada 2013, perusahaan itu membukukan pendapatan T$ 4 triliun. Gou menegaskan, dibandingkan India, Indonesia merupakan negara terbaik untuk menggantikan Cina sebagai basis produksi manufaktur dunia di masa depan.

    “Pertimbangan Foxconn adalah besarnya potensi pertumbuhan pasar Indonesia. Di Indonesia juga tidak kekurangan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi," ujar Analis pada KGI Securities yang berbasis di Taipei, Kuo Ming-Chi. Potensi pertumbuhan pasar domestik menjadi pertimbangan utama Foxconn, dan Indonesia ranking pertama dalam hal itu.

    ABDUL MALIK

    Berita Lain:
    Hindari Sorotan, Hakim Vica Akan Ditarik ke Pengadilan Tinggi
    Airin dan Atut Chosiyah Berebut Jadi Tuan Tanah
    Mobil 'Wah' Adik Ratu Atut Ditaksir Rp 30 M  
    Mobil Berpelat Inisial Airin Ikut Disita KPK
    BPPT Perangi Hujan di Jakarta Hari Ini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).