Ini Prediksi Fitch Kondisi Perbankan Usai Pandemi Mereda

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi atau Logo Bank Indonesia. REUTERS/Iqro Rinaldi/File Photo

    Ilustrasi atau Logo Bank Indonesia. REUTERS/Iqro Rinaldi/File Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, memprediksi penyebaran pandemi Covid-19 akan cenderung memacu strategi transformasi digital sejumlah perbankan di wilayah Asia Tenggara.

    Tim Fitch Ratings menuliskan pandemi Covid-19 menghasilkan fenomena social distancing. Para pelanggan diperkirakan akan beralih kepada layanan yang lebih nyaman selama krisis.

    Fitch mengatakan bank dengan sistem digital yang telah mapan dan maju akan memperoleh keuntungan dari tren tersebut. "Selain itu, perbankan akan memetik manfaat dari potensi peningkatan produktivitas serta penghematan biaya dari cabang-cabang yang ditutup dalam jangka menengah," seperti dalam publikasi Fitch yang dikutip Bisnis.com, Minggu 24 Mei 2020

    Lembaga pemeringkat internasional itu mencatat setidaknya banyak bank besar di kawasan Asia Tenggara telah melaporkan lonjakan aktivitas perbankan online atau daring sejak terjadinya pandemi Covid-19. Fitch menjadikan perbankan pelat merah Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebagai salah satu contoh.

    Fitch menyebut BBRI melaporkan sekitar 88 pertumbuhan secara year on year (yoy) untuk aktivitas internet banking pada kuartal I/2020. Tren itu juga terjadi untuk bank perbankan besar di Filipina dan Malaysia.

    Untuk Singapura, tiga bank besar di negara itu tidak hanya melaporkan kenaikan signifikan dalam transaksi digital tetapi juga pembukaan akun digital. Masyarakat Negeri Singa juga banyak menggunakan platform layanan perencanaan keuangan.

    “Kami memperkirakan tren ini akan bertahan bahkan setelah wabah mereda, karena pelanggan yang terbiasa dengan transaksi berbasis tunai dan konter mempertahankan kebiasaan mereka yang baru diadopsi,” tulis Tim Fitch Ratings. 

    Fitch mengatakan perbankan dipaksa untuk berinovasi lebih cepat atau berisiko tertinggal. Perbankan kecil dengan kemampuan digital di bawah perusahaan sejenis lainnya akan berisiko terhadap perubahan dinamika persaingan.

    Lembaga pemeringkat itu meyakini perbankan akan lebih aktif lagi dalam mengejar pertumbuhan melalui saluran digital. Adapun, layanan cabang yang ada kemungkinan akan diarahkan kepada nilai tambah yang lebih tinggi. 

    “Kami memperkirakan bahwa bank-bank di pasar-pasar utama Asean rata-rata telah meningkatkan pendapatan sebesar 8 persen CAGR selama 2014–2019 sementara jaringan cabang mereka menyusut sebesar 1 persen CAGR,” tulis Fitch Ratings.

    Fitch meyakini tingkat adopsi perbankan digital yang secara signifikan lebih tinggi akan membantu lebih banyak bank yang sudah mapan dan maju secara digital untuk memperluas keunggulan kompetitif. Regulator di seluruh wilayah telah memperpanjang tenggat waktu untuk pemberian lisensi bank virtual sebagai hasil dari pandemi, yang kami prediksi juga menyingkirkan bank daring lebih lemah, namun bercita-cita tinggi untuk bersaing memperebutkan lisensi. 

    “Penantang yang lebih mapan, terutama yang berasal dari latar belakang perbankan nontradisional, akan cenderung menilai kembali strategi bank digital mereka atau memfokuskan waktu mereka untuk mengelola bisnis mereka yang sudah ada,” imbuh Tim Fitch.

    Kendati demikian, Fitch menyebut akselerasi tingkat digitalisasi tidak akan berdampak signifikan terhadap peringkat bank dalam waktu dekat. Pasalnya, lingkungan operasi yang lebih lemah memiliki dampak yang lebih nyata dan langsung kepada keuangan pada masa mendatang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.