Garuda Buka Kemungkinan Caplok Saham Mayoritas Sriwijaya Air

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta. AP/Tatan Syuflana

    Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta. AP/Tatan Syuflana

    TEMPO.CO, Jakarta - Maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. tengah menjajaki kemungkinan untuk mencaplok saham mayoritas PT Sriwijaya Air. Rencana itu diungkapkan setelah Garuda Indonesia kembali menjalin kerja sama manajemen atau KSM dengan Sriwijaya Air Group. 

    “Ada kemungkinan kami untuk ambil saham mayoritas (Sriwijaya Air Group). Kemungkinan itu terbuka. Kami memungkinkan ada opsi ini,” ujar  Vice Corporate Secretary Garuda Indonesia M. Ikhsan Rosan saat ditemui di The Tribrata, Jakarta Selatan, Senin, 14 Oktober 2019.

    Saat ini, Garuda Indonesia tengah memperbaiki kerja sama dengan Sriwijaya Air. Kedua entitas itu sebelumnya sempat pecah kongsi lantaran masalah internal yang terjadi pada Maret hingga September 2019. Masalah yang mendera dua perusahaan ini menyebabkan adanya disupute hingga terjadi pergantian direksi. 

    Namun, setelah melalui proses rekonsiliasi, kedua manajemen menyatakan sepakat melanjutkan kerja sama. Ikhsan mengatakan, pokok-pokok kerja sama Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air tidak berubah dari awal mula KSM disepakati, yakni pada November 2018. 

    Ihwal rencana pencaplokan saham mayoritas itu, Ikhsan tak mendetailkan kapan pastinya Garuda Indonesia akan merealisasikan rencananya. Namun Ikhsan meyakinkan, sejatinya niat itu telah diungkapkan sejak lama. 

    “Sebelum November mau KSM itu, kami sudah membuka kemungkinan untuk membeli saham mayoritas,” ucapnya. 

    Dengan penguasaan saham ini, Garuda Indonesia memiliki sejumlah rencana pengembangan Sriwijaya Air. Salah satunya penyesuaian standar keselamatan dan layanan Sriwijaya Air dengan Garuda Indonesia. 

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.