Perang Dagang AS-Cina, Susi Ungkap Sebab RI Kalah dari Vietnam

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menunjukkan alat capit yang digunakan untuk  membersihkan sampah di kawasan Pantai Timur, Kelurahan Ancol, Jakarta, Ahad, 18 Agustus 2019.Acara ini diselenggarakan serentak di 108 titik seluruh Indonesia. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menunjukkan alat capit yang digunakan untuk membersihkan sampah di kawasan Pantai Timur, Kelurahan Ancol, Jakarta, Ahad, 18 Agustus 2019.Acara ini diselenggarakan serentak di 108 titik seluruh Indonesia. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Tempo.Co, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebut alasan Indonesia kalah dari Vietnam dalam meraup manfaat dari perang dagang Amerika Serikat dan Cina beberapa waktu ke belakang.

    "Vietnam dapat banyak windfall dari perang dagang Cina - Amerika Serikat, Indonesia justru looser, kenapa? Karena kita enggak bisa menjaga sistem kita sehingga barang-barang ilegal masuk," ujar Susi di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Rabu, 9 Oktober 2019.

    Akibat masuknya barang ilegal, tuturnya, Indonesia hanya menjadi pasar saja dan tidak menang dari segi produksi. Di sisi lain, produk Cina yang kena tarif impor di Amerika juga ikut dialihkan ke Indonesia dan dijual dengan harga murah. Akhirnya, industri di dalam negeri pun terancam gulung tikar. "Jangan sampai sumber daya alam juga seperti itu."

    Pernyataan Susi tersebut berkaitan dengan kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang getol melarang perdagangan benih lobster dari laut Indonesia. Ia mengatakan praktik jual beli benih lobster menyebabkan produksi lobster Tanah Air merosot hingga ke 300-500 ton saja.

    Menurut Susi, puluhan tahun lalu, lobster tidak pernah diambil dalam bentuk benih. Sehingga, nelayan bisa memanen saat sudah besar dan hasilnya cukup untuk membeli rumah hingga menyekolahkan anak. Namun, kini populasi lobster semakin berkurang dan produksi lobster pun anjlok. "Tapi Vietnam yang enggak punya bibit, setiap tahun jutaan dolar, mereka terima mereka besarkan (benih lobster)." 

    Karena itu, ia meminta jajarannya, bersama dengan aparat terkait bisa menjaga sumber daya alam Indonesia agar tidak habis dan tidak bisa lagi dinikmati masyarakat. Susi memahami masyarakat tidak banyak yang mengonsumsi lobster lantaran harganya yang terlampau mahal bila dibandingkan dengan ikan. "Jadi ada yang bisa untuk dijual guna meningkatkan ekonomi."

    Belum lagi pada komoditas lain seperti gurita. Susi mengatakan harga gurita pernah anjlok hingga Rp 5.000 per kilogram ketika marak penangkapan gurita ilegal di Indonesia. Namun, ketika perikanan ilegal ditumpas, harga itu bisa naik hingga sepuluh kalinya. Bahkan, populasinya pun meningkat. Sehingga produksi bisa dilakukan sepanjang tahun.

    "Nah itu, jadi tolonglah bapak-bapak ini sebagai pilar terdepan dari penegakan hukum, penjaga daripada sumber daya alam Indonesia supaya jangan sampai habis dan rakyat kita gigit jari," kata Susi.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.