Debat Capres Diharap Perjelas Keberpihakan Soal Ketahanan Energi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jubir Pasangan Jokowi-Maruf Lena Maryana Mukti (kedua kanan), Moderator Ichan Loulembah (kedua kiri), Mantan Komisioner KPU Sigit Pamungkas (kiri), dan Peneliti Senior Populi Center Afrimadona (kanan) menjadi pembicara dalam diskusi bertema Debat Belum Hebat di Jakarta, Sabtu 19 Januari 2019. ANTARA FOTO/Putra Haryo Kurniawan/

    Jubir Pasangan Jokowi-Maruf Lena Maryana Mukti (kedua kanan), Moderator Ichan Loulembah (kedua kiri), Mantan Komisioner KPU Sigit Pamungkas (kiri), dan Peneliti Senior Populi Center Afrimadona (kanan) menjadi pembicara dalam diskusi bertema Debat Belum Hebat di Jakarta, Sabtu 19 Januari 2019. ANTARA FOTO/Putra Haryo Kurniawan/

    TEMPO.CO, Jakarta - Debat calon presiden dan calon wakil presiden atau debat capres putaran kedua pada 17 Februari 2019 diharapkan semakin memperjelas keberpihakan para calon terutama dalam hal ketahanan energi.

    Baca juga: Timses Klaim Jokowi Lebih Rileks Hadapi Debat Capres Kedua

    Peneliti Institute for Indonesia Local Policy Studies (ILPOS) Broery Doro Pater Tjaja di Jakarta, Senin, 11 Februari 2019, mengatakan sesuai dengan tujuannya debat politik menjelang pemilu semestinya mampu memposisikan ketajaman visi misi pada bidang yang telah ditentukan dalam ini untuk putaran kedua bertema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup.

    "Energi menjadi topik pemantik debat yang baik karena dari sini dapat diukur seberapa jauh keberpihakan pasangan calon terhadap isu yang menyangkut hajat hidup dan masa depan rakyat banyak ini," katanya.

    Pada debat pertama, Broery menyayangkan pasangan calon masih terkesan hanya saling menyerang dan berusaha terlihat benar di balik kamera. Menurut dia, hal itu diharapkan bisa diperbaiki dalam penampilan kedua sebagai usaha untuk membangun pendidikan politik bagi masyarakat.

    "Sebab semestinya debat adalah ruang pemaparan visi berkualitas yang dapat mempengaruhi massa atau meyakinkan massa bahwa pasangan calon bersangkutan adalah anak terbaik bangsa yang siap menjadi presiden dan wakil presiden terutama untuk isu-isu yang terkait energi," kata dia.

    Sebagian masyarakat menunggu paparan visi pasangan calon terkait persoalan energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup.

    Menurut dia, debat harus mampu mencerminkan pendapat pasangan calon dengan baik sehingga ajang tersebut berpengaruh langsung terhadap elektoral pasangan.

    "Intinya, debat seharusnya merupakan ajang pendidikan politik bagi semua kalangan. Bila debat berikutnya masih seperti debat pertama ini, maka panggung debat capres hanya akan mewarnai media massa dengan pemberitaan saling serang dan hujat yang tidak akan mencerdaskan warga," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Riuh Penguasaan Lahan Melibatkan Kubu Jokowi dan Prabowo

    Serangan Jokowi kepada Prabowo pada Debat Pilpres putaran kedua memantik keriuhan. Jokowi menyebut lahan yang dimiliki Prabowo di Kalimantan dan Aceh.