Pefindo Prediksi Kinerja Ekonomi Indonesia Stabil Hingga 2020

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menyelesaikan proyek bangunan di Jakarta akhir pekan lalu. Paket stimulus ekonomi tahap II yang menambah anggaran pembangunan infrastruktur sebesar Rp6 triliun diyakini pemerintah mampu untuk menyerap lebih dari 2,5 juta tenaga kerja. ANTARA/

    Pekerja menyelesaikan proyek bangunan di Jakarta akhir pekan lalu. Paket stimulus ekonomi tahap II yang menambah anggaran pembangunan infrastruktur sebesar Rp6 triliun diyakini pemerintah mampu untuk menyerap lebih dari 2,5 juta tenaga kerja. ANTARA/

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan kondisi ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan masih prospektif tetapi penuh kehati-hatian. Ekonom Pefindo, Fikri C. Permana, mengatakan bahwa pihaknya secara umum masih optimistis bahwa kinerja ekonomi Indonesia setidaknya hingga 2020 mendatang masih akan tetap stabil.

    Baca: Pidato Akhir Tahun, Prabowo Sebut Lagi Soal Ketimpangan Ekonomi

    Fikri mengasumsikan suku bunga The Fed akan naik lagi tetapi hanya mencapai 3 persen pada 2019 dan 2020. Dengan asumsi Bank Indonesia tetap dengan strategi ahead of the curve, BI 7 Days Repo Rate juga akan naik, setidaknya hingga 6,5 persen tahun 2019-2020.

    Hal itu diharapkan bisa menjaga rupiah lebih stabil di kisaran Rp 14.800 – 14.780 per dolar AS. Dengan asumsi stabilitas terjaga, yield Surat Utang Negara diproyeksikan akan bergerak di kisaran 8,6 persen, sedangkan inflasi masih di 2,5 persen hingga 4,5 persen.

    Kalau semua asumsi itu tercapai, menurut Fikri, kemungkinan pertumbuhan ekonomi masih bisa kita jaga di kisaran 5,1 persen - 5,2 persen di tahun 2019 – 2020. "PR-nya adalah di rupiah kita,” katanya melalui keterangan resmi, Jumat, 11 Januari 2019.

    Fikri mengatakan, faktor positif yang menopang kinerja ekonomi tahun ini yakni harga komoditas, khususnya batu bara dan minyak, mulai stabil. Selain itu, Indonesia juga memiliki peringkat layak investasi dari pemeringkat global.

    Pasar keuangan Indonesia juga masih relatif stabil, serta masih ada dorongan yang cukup kuat terhadap  ekonomi dari sektor infrastruktur dan konstruksi. Aktivitas ekonomi di Indonesia juga semakin solid dan tidak mudah terpengaruh oleh perkembangan politik

    Akan tetapi, masih ada pula sejumlah faktor negatif yang membayangi, seperti adanya hambatan perdagangan terhadap produk ekspor utama, kenaikan defisit primer fiskal, dan sentimen negatif investor asing yang masih tinggi.

    Baca: JK Siap Dikritik Soal Kebijakan Ekonomi: Kami Butuh Saran

    Selain itu, dampak sektor infrastruktur dan konstruksi juga tidak dapat langsung terasa dalam waktu dekat. Momen pemilu juga kemungkinan akan sedikit berpengaruh pada dinamika ekonomi, yang menyebabkan pelaku ekonomi cenderung menunggu.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gaji Gubernur dan Perbandingan Luas Jawa Tengah dengan Malaysia

    Dalam Debat Pilpres 2019 pertama pada 17 Januari 2019, Prabowo Subianto menyinggung besaran gaji gubernur dengan mengambil contoh Jawa Tengah.