Impor Turun pada September 2018, BI: Tanda-tanda Membaik

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menunjukkan kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe di sentra produksi rumahan di kawasan Kemayoran, Jakarta, Kamis, 6 September 2018. Harga kedelai impor meningkat menjadi Rp 7.700 per kilogram dari sebelumnya Rp 6.500 per kilogram. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    Pekerja menunjukkan kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe di sentra produksi rumahan di kawasan Kemayoran, Jakarta, Kamis, 6 September 2018. Harga kedelai impor meningkat menjadi Rp 7.700 per kilogram dari sebelumnya Rp 6.500 per kilogram. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan turunnya impor, khususnya pada sektor minyak dan gas, pada September 2018 menunjukkan hasil dari upaya BI dan pemerintah menekan defisit transaksi berjalan beberapa waktu terakhir.

    "Ada tanda-tanda awal mengarah ke perkembangan membaik," ujar Perry di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, 15 Oktober 2018.

    Baca juga: Indef Prediksi Neraca Perdagangan September Defisit USD 15

    Kendati demikian, Perry mengatakan pada triwulan tiga 2018 defisit transaksi berjalan belum bisa menurun drastis. Malah, ia menduga defisit transaksi berjalan pada triwulan tiga akan lebih besar dari triwulan kedua.

    "Tetapi di tahun 2019 mengkonfirmasi perkiraan kami CAD di 2019 sekitar 2,5 persen. Kalau tahun ini kan tetap di bawah 3 persen, tetapi mengarah ke 3 persen," kata Perry.

    Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat nilai impor Indonesia pada September 2018 mencapai US$ 14,60 miliar. Direktur Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti mengatakan angka tersebut menurun 13,18 persen dibandingkan Agustus 2018.

    "Jika dibandingkan September 2017 meningkat 14,18 persen," kata Yunita di kantornya, Jakarta, Senin, 15 Oktober 2018.

    Yunita mengatakan impor nonmigas September mencapai US$ 12,32 miliar atau turun 10,52 persen dibandingkan Agustus 2018. Namun, dibandingkan impor nonmigas September 2017, angka tersebut menunjukkan peningkatan 13,54 persen.

    "Penurunan impor nonmigas terbesar September 2018 dibandingkan Agustus 2018 adalah golongan mesin/peralatan listrik US$ 259,5 juta atau 13,22 persen, sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan buah-buahan sebesar US$ 42,2 juta atau 66,46 persen," ujar Yunita.

    Sedangkan, kata Yunita, impor migas September mencapai US$ 2,28 miliar atau turun 25,20 persen dibandingkan Agustus 2018. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan 17,75 persen dibandingkan September 2017.

    Menurut Yunita, impor kumulatif Januari - September 2018, yaitu US$ 138,7 miliar atau meningkat 23,33 persen dibandingkan periode sama di tahun sebelumnya. Peningkatan terjadi pada impor migas dan nonmigas masing-masing US$ 4,7 juta atau 27,14 persen dan US$ 21,5 juta atau 22,64 persen.


    CAESAR AKBAR | HENDARTYO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.