Luhut: Peserta IMF-World Bank Annual Meeting Sekitar 32.000 Orang

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menghadiri rapat dengan Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan, di Kantor Kemenko Maritim, Jakarta, Senin 1 Oktober 2018. (dok Pemprov Jabar)

    Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menghadiri rapat dengan Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan, di Kantor Kemenko Maritim, Jakarta, Senin 1 Oktober 2018. (dok Pemprov Jabar)

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa sebanyak 32.000 orang dikabarkan telah mendaftarkan diri sebagai peserta pertemuan tahunan IMF-World Bank di Bali pada 8-15 Oktober 2018. Menurut Luhut jumlah tersebut telah melebihi dari perkiraan pemerintah Indonesia yang hanya mencapai 19.000 orang.

    Baca jugaIMF-World Bank Diharapkan Dapat Turut Promosikan Kesenian Daerah

    “Jumlah peserta yang akan hadir sekitar 32.000 orang, jadi lebih banyak daripada yang kita perkirakan. Masih ada kemungkinan tambah karena terakhir hari ini," kata Luhut seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Jumat, 5 Oktober 2018.

    Luhut mengatakan berdasarkan data per tanggal 3 Oktober 2018 tercatat bahwa 12.031 orang mendaftar melalui jalur Meeting Team Secretariat (MTS) dari pihak IMF-WB secara online. Sedangkan sebanyak 19.404 orang mendaftar melalui Indonesia Planning Team yang dihandle oleh panitia nasional.

    Luhut berujar angka tersebut akan semakin mendekati 32.000 jika memperhitungkan jumlah pendaftar pada 4 Oktober dan tamu-tamu dari sektor swasta di luar jalur registrasi resmi.

    Dengan jumlah peserta tersebut, Luhut melanjutkan, menjadikan event di Indonesia ini sebagai rapat tahunan IMF-WB terbesar sepanjang sejarah. “IMF-WB Meeting sejak tahun 1946 adalah terbesar di Bali,” kata Luhut.

    Luhut berharap dengan adanya jumlah peserta yang di luar perkiraan itu, tentunya bisa berdampak positif terhadap perekonomian di Bali secara khusus. Merujuk pada studi yang telah dilakukan oleh Bappenas, dengan jumlah peserta sebanyak 19.000 saja, asumsi pertumbuhan ekonomi di Bali bisa memberikan tambahan sebanyak 0,64 persen.

    "Berarti pertumbuhan diperkirakan menjadi 6,54% dan itu lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. Diharapkan pula penciptaan lapangan kerja di Bali bisa mencapai 32.700," kata Luhut.

    Dengan asumsi dan prediksi itu, penerimaan yang bakal di peroleh Bali bakal mencapai lebih dari Rp 1,5 triliun. Sebab sebelumnya, dengan Bappenas telah melakukan proyeksi bahwa dengan asumsi awal peserta yang hanya 19.000 orang, pendapatan yang bisa diperoleh mencapai Rp 1,5 triliun.

    "Asumsi awal 19 ribu yang akan datang, ternyata yang akan datang 32.000, maka itu akan berubah. Mestinya pertumbuhan ekonomi Bali akan lebih tinggi,” kata Menko Luhut.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.