Bulog Sebut Tak Perlu Impor Beras, Menteri Amran: Kita Berdoa

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertanian, Amran Sulaiman melepas 100 mobil pick up telur murah untuk operasi pasar di Jabodetabek.

    Menteri Pertanian, Amran Sulaiman melepas 100 mobil pick up telur murah untuk operasi pasar di Jabodetabek.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertanian Amran Sulaiman merespon ucapan Direkur Utama Perum Bulog Budi Waseso soal impor beras. Sebelumnya Budi Waseso menyebutkan bahwa sampai Juni 2019 cadangan beras pemerintah aman, sehingga Indonesia tidak perlu impor beras.

    Baca: Ancam Spekulan Beras, Budi Waseso: Saya Ini Mantan Kabareskrim

    "Bahwa kalau Bulog mengatakan demikian, kita berdoa semua termasuk bapak. Tapi yang terpenting Kementerian Pertanian seakan-akan hanya cuma beras, padahal ada 460-an item yang harus kami jaga 24 jam," kata Amran di Gedung Kementerian Pertanian, Selasa, 25 September 2018.

    Amran mengatakan Kementerian Pertanian sepakat dengan satu data, yaitu dari Badan Pusat Statistik.

    "Karena dianggarkan di BPS data itu, tapi yang saya heran bapak cuma butuhnya data beras. Coba data bawang jagung ayam telur kambing sudah ekspor," kata Amran.

    Pada 19 September, Budi Waseso menyebutkan impor beras seharusnya tak diperlukan, setidaknya sampai Pilpres 2019.

    "Kebutuhan hingga Juni 2019 aman. Harga di pasaran ada yang Rp 8.200 per kilogram, bahkan di beberapa tempat saya temui di bawah Rp 8.000 per kilogram," ujar Budi Waseso saat konferensi pers di Gedung Bulog, Rabu, 19 September 2018.

    Menurut Budi Waseso, sebagai negara agraris, Indonesia tak seharusnya mengimpor beras. Ia menyebut impor beras ini hanya akan menyerap devisa negara yang besar, terlebih dengan kondisi harga tukar rupiah yang semakin melemah.

    Budi Waseso menyebutkan sudah membuat tim yang beranggotakan ahli independen, Kementerian Pertanian, serta jajaran Bulog guna menganalisis kebutuhan dan kondisi perberasan nasional. Tim merekomendasi sampai Juni 2019 tidak perlu impor. "Bahkan dimungkinkan beras cadangan impor dari Bulog tidak akan keluar," katanya.

    Mantan Kepala Bareskrim Mabes Polri ini menjelaskan, saat ini cadangan beras di gudang Bulog mencapai 2,4 juta ton. Jumlah tersebut belum termasuk dengan beras impor yang akan masuk pada Oktober sebesar 400 ribu ton sehingga total cadangannya menjadi 2,8 juta ton.

    Dari total cadangan tersebut, Bulog memperhitungkan kebutuhan untuk beras sejahtera hanya akan terpakai 100 ribu ton. Dengan demikian, total stok beras yang ada di gudang Bulog hingga akhir Desember 2018 sebesar 2,7 juta ton.

    Jika ditambah dengan serapan gabah petani dalam negeri sebesar 4.000 ton per hari (pada musim kering), diperkirakan stok tahun bisa mencapai 3 juta ton. Budi Waseso meyakini dengan posisi stok akhir Desember ditambah dengan serapan gabah hingga Juni 2019, Indonesia tidak perlu impor beras.

    "Saya enggak mau lagi berpolemik mau atau tidak impor. Karena ada analisa tadi tidak perlu impor, maka kebutuhan sampai Juni 2019 aman," kata dia sembari menambahkan bahwa data kebutuhan beras Indonesia sebesar 2,4-2,7 juta ton per bulan memang perlu dipertanyakan.

    Dari data tersebut, kata Budi Waseso, tercatat setiap orang mengonsumsi beras sebanyak 130 kilogram per tahun. Menurut dia, data ini menjadi rancu dan mengakibatkan asumsi kebutuhan beras lebih banyak dari yang seharusnya. Sehingga  Indonesia selalu kekurangan, karena itu diperlukan impor beras.

    HENDARTYO HANGGI | KARTIKA ANGGRAENI | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.