Senin, 22 Oktober 2018

Bank BUMN Bukan Tak Mau Danai Divestasi Saham Freeport, Tapi...

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Gubernur Papua Lukas Enembe dan Bupati Mimika Eltinus Omaleng menandatangani perjanjian antara Pemerintah Pusat, Pemprov Papua, Pemkab Mimika dan PT Inalum tentang Pengambilan Saham Divestasi PT Freeport Indonesia di Kementerian Keuangan, Jakarta, 12 Januari 2018. Sebanyak 10 persen saham PT Freeport Indonesia itu akan dibagi dua, yaitu 7 persen untuk Kabupaten Mimika dan 3 persen untuk provinsi Papua. TEMPO/Subekti.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Gubernur Papua Lukas Enembe dan Bupati Mimika Eltinus Omaleng menandatangani perjanjian antara Pemerintah Pusat, Pemprov Papua, Pemkab Mimika dan PT Inalum tentang Pengambilan Saham Divestasi PT Freeport Indonesia di Kementerian Keuangan, Jakarta, 12 Januari 2018. Sebanyak 10 persen saham PT Freeport Indonesia itu akan dibagi dua, yaitu 7 persen untuk Kabupaten Mimika dan 3 persen untuk provinsi Papua. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Akuisisi saham PT Freeport Indonesia oleh PT Inalum didanai oleh bank asing. Alasannya, bunga bank dalam negeri, termasuk bank BUMN, dinilai tidak kompetitif untuk menjadi pemberi pinjaman atau pembiayaan kepada Inalum.

    Baca juga: Divestasi Saham Freeport Tak Jadi Didanai Bank BUMN

    Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan tekanan nilai tukar rupiah membuat bank dalam negeri, termasuk bank BUMN, memberikan bunga pinjaman yang lebih tinggi dibandingkan bank luar negeri.

    "Bank BUMN bukannya tidak mau membiayai. Jadi ada tekanan foreign exchange, jadi bunga bank dalam negeri itu lebih tinggi dari bank luar negeri," kata Harry dalam diskusi Lika Liku Akuisisi Saham Freeport yang diselenggarakan oleh Tempo Media Group di Jakarta, Senin, 6 Agustus 2018.

    Harry menjelaskan, dengan perhitungan bunga pinjaman yang diberikan, akan lebih menguntungkan bagi Inalum untuk meminjam dari bank-bank luar negeri. "Kalau bank BUMN lebih kompetitif ya bisa saja. Apalagi bagus karena jadi sinergi BUMN. Tapi untuk pinjaman sebesar ini mungkin juga bank BUMN kita tidak punya alokasi yang besar," katanya.

    Baca juga: Bank BUMN Tak Tertarik Danai Akusisi Saham Freeport oleh Inalum

    Sebelumnya, Harry menyebut ada 11 bank pemberi pinjaman kepada Inalum untuk membeli divestasi saham PT Freeport Indonesia. Namun, ia menyebut jumlah tersebut sudah termasuk tiga bank BUMN selain bank-bank asing.

    "Sebelas mungkin termasuk BUMN yang tidak jadi, yaitu tiga bank. Tapi ya mungkin ada tambahan lagi, saya kurang tahu," katanya tanpa menjelaskan lebih rinci.

    Sesuai kesepakatan pokok-pokok perjanjian atau head of agreement (HoA) yang ditandatangani pada 12 Juli 2018, Inalum akan membeli saham divestasi Freeport senilai US$ 3,85 miliar.

    Bank asal Jepang, The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Lt, akan menjadi pimpinan bank pemberi kredit sindikasi kepada Inalum untuk menguasai 51 persen saham PT Freeport Indonesia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.