Jumat, 19 Oktober 2018

Permintaan Coworking Space di Asia Tumbuh Lampaui AS dan Eropa

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja membersihkan Ruang Kerja Bersama, Ruang & Tempo di Gedung Tempo Lantai 8, Palmerah, Jakarta, 16 Mei 2018. Tempo, Kibar, dan Kumpul Luncurkan Ruang Kerja Bersama atau co-Working Space guna membuka peluang kolaborasi anak muda Indonesia dengan para praktisi media, komunikasi, dan berbagai komunitas kreatif dalam ekosistem digital. Ruang & Tempo juga menyediakan tempat bagi seluruh anggotanya untuk bekerja secara kolaboratif dengan berbagai fasilitas seperti area event, ruang meeting, serta akses internet 24 jam. TEMPO/Fardi Bestari

    Pekerja membersihkan Ruang Kerja Bersama, Ruang & Tempo di Gedung Tempo Lantai 8, Palmerah, Jakarta, 16 Mei 2018. Tempo, Kibar, dan Kumpul Luncurkan Ruang Kerja Bersama atau co-Working Space guna membuka peluang kolaborasi anak muda Indonesia dengan para praktisi media, komunikasi, dan berbagai komunitas kreatif dalam ekosistem digital. Ruang & Tempo juga menyediakan tempat bagi seluruh anggotanya untuk bekerja secara kolaboratif dengan berbagai fasilitas seperti area event, ruang meeting, serta akses internet 24 jam. TEMPO/Fardi Bestari

    TEMPO.CO, Jakarta - Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) menyebutkan permintaan untuk kantor yang fleksibel termasuk coworking dan serviced office tumbuh lebih cepat di Asia Pasifik dibanding di tempat lainnya di dunia. Bahkan angka ketersediaan di wilayah itu melampaui pasar di Amerika Serikat dan Eropa.

    Kepala Riset Solusi Korporasi JLL Asia Pasifik, Susan Sutherland, mengatakan persediaan ruang lantai fleksibel di kawasan itu tumbuh sebesar 35,7 persen per tahun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan 25,7 persen di Amerika Serikat dan 21,6 persen di Eropa.

    Baca: Mengintip Konsep dan Kelebihan Coworking Space 'Ruang & Tempo'

    Laporan ini meneliti coworking dan serviced office operator utama di 12 pasar Asia Pasifik mengungkapkan bahwa jumlah operator ruang fleksibel besar telah berlipat ganda. Sementara ruang lantai yang fleksibel telah meningkat 150 persen antara tahun 2014 dan 2017.

    Menurut riset diperkirakan pada 2030, ruang kerja fleksibel dapat meliputi 30 persen dari portofolio properti komersial perusahaan di seluruh dunia. “Meskipun adopsi perusahaan masih dalam periode awal, ada faktor-faktor tertentu yang akan terus membuat daerah ini menjadi titik panas untuk pertumbuhan coworking,” kata Susan seperti dikutip dari laporannya, Jumat, 18 Mei 2018.

    JLL menyebutkan pendorong utama dari tumbuhnya coworking adalah adanya dorongan besar dari pemerintah terhadap kewiraswastaan yang mengimbangi pertumbuhan lambat dalam industri tradisional seperti manufaktur. Selain itu ada juga tawaran sumber daya keuangan dan dukungan untuk perusahaan kecil, yang banyak di antaranya mencari di ruang coworking.

    Misalnya, di Singapura, pemerintah telah mendukung pengembangan lokasi yang fleksibel seperti JTC Launchpad yang merupakan rumah bagi sejumlah perusahaan teknologi start-up. Demikian pula, pemerintah setempat di New South Wales mendukung pengembangan Sydney Startup Hub, sebuah zona teknologi seluas 17.000 meter persegi yang melayani para pengusaha yang bercita-cita tinggi.

    Sementara itu reformasi yang diperkenalkan oleh pemerintah Jepang untuk meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja dan produktivitas juga mendorong perusahaan domestik untuk mengeksplorasi cara kerja yang lebih fleksibel.

    Kemampuan untuk keluar-masuk kantor dalam waktu singkat, dan menghindari negosiasi kontrak yang rumit dan pekerjaan yang tidak menarik adalah pilihan yang nyaman bagi banyak penghuni coworking.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bravo 5 dan Cakra 19, Dua Tim Luhut untuk Jokowi di Pilpres 2019

    Menyandang nama Tim Bravo 5 dan Cakra 19, dua gugus purnawirawan Jenderal TNI menjadi tim bayangan pemenangan Jokowi - Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.