BI Sebut Volatilitas Rupiah karena Kebijakan Ekonomi AS

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat menjawab pertanyaan wartawan usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Gedung KPK Jakarta, 1 November 2016. ANTARA FOTO

    Ekspresi Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat menjawab pertanyaan wartawan usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Gedung KPK Jakarta, 1 November 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (Gubernur BI) Agus Martowardojo mengatakan volatilitas kurs rupiah dalam beberapa waktu terakhir terjadi karena dampak langsung dari kondisi ekonomi global, khususnya era peningkatan suku bunga acuan dan ekspansifnya kebijakan fiskal di Amerika Serikat.

    Agus mengatakan dampak kebijakan ekonomi Amerika tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap mata uang rupiah Indonesia, tapi juga pergerakan mata uang semua negara.

    "BI konsisten dan berhati-hati merespons dinamika pergerakan nilai tukar rupiah yang sedang berlangsung untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga," ujarnya dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Rabu, 7 Maret 2018.

    Baca juga: Bank Indonesia: Nilai Rupiah Memang Sudah Undervalue

    Namun dia meyakini, dengan ketahanan fundamental ekonomi Indonesia saat ini serta koordinasi antara bank sentral dan pemerintah, tekanan ekonomi eksternal itu tidak akan mengikis ekonomi domestik terlalu lama.

    Agus menjelaskan, berbagai indikator telah mencerminkan perbaikan ketahanan ekonomi domestik, seperti inflasi dalam tiga tahun terakhir yang terus menurun dan sesuai dengan target bank sentral untuk menjaga stabilitas. Defisit neraca transaksi berjalan juga menurun ke 1,7 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2017.

    "Bank Indonesia memperkirakan secara keseluruhan tahun 2018 defisit neraca transaksi berjalan tetap sehat di kisaran 2,1 persen dari PDB, sejalan dengan dinamika pemulihan ekonomi. Karena pemulihan, impor bahan baku juga diperkirakan ada peningkatan," ujarnya.

    Baca juga: Rupiah Melemah, BI: Fenomena Dunia Seperti di 2013 dan 2015

    Persepsi terhadap kinerja ekonomi Indonesia juga cenderung membaik, yang dibuktikan dengan naiknya peringkat surat utang Indonesia, yang dilakukan beberapa lembaga pemeringkat internasional.

    Agus juga mengklaim beberapa peraturan Bank Indonesia, seperti kewajiban lindung nilai bagi utang luar negeri dan kewajiban penggunaan rupiah, telah mengurangi permintaan valas yang berlebihan.

    "Bank Indonesia akan tetap berada di pasar secara terukur untuk mengawal terciptanya stabilitas rupiah," ucapnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.