Jumat, 25 Mei 2018

Bank Indonesia: Nilai Rupiah Memang Sudah Undervalue

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Majalah The Economist menyebutkan, masalah yang dihadapi Indonesia adalah pemerintahan yang birokratis, korupsi, dan infrastruktur yang tidak memadai menjadi alasan nilai tukar rupiah sangat rendah. Adek Berry/AFP/Getty Images

    Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Majalah The Economist menyebutkan, masalah yang dihadapi Indonesia adalah pemerintahan yang birokratis, korupsi, dan infrastruktur yang tidak memadai menjadi alasan nilai tukar rupiah sangat rendah. Adek Berry/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan nilai tukar rupiah yang belakangan berada di antara Rp 13.600 dan Rp 13.700 per dolar Amerika Serikat dinilai sudah undervalue. Bahkan hal itu terjadi sejak sebelum adanya fluktuasi kurs mata uang global selama Februari kemarin.

    "Kalau, menurut Bank Indonesia, rupiah itu memang sebelum fluktuasi sudah undervalue. Jadi kalau ada fluktuasi seperti beberapa hari terakhir ya memang rupiahnya undervalue," ujar Mirza di kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Jumat, 2 Maret 2018.

    Simak: Karena Hal Ini, Menteri Darmin Tak Khawatir Rupiah Melemah

    Menurut Mirza, nilai aman pertukaran rupiah berada pada level Rp 13.200 dan 13.300 per dolar AS. Untuk itu, ia mengatakan pihaknya siap hadir di pasar valuta asing dan pasar surat berharga negara (SBN) untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Ia pun membantah BI sengaja membuat rupiah undervalue untuk menggenjot nilai ekspor.

    "Kalau sudah undervalue untuk apa BI buat lebih undervalue lagi. BI pasti ada di pasar untuk lakukan stabilisasi," tutur dia.

    Fluktuasi nilai tukar rupiah yang terjadi selama Februari, kata Mirza, merupakan dampak dari adanya data-data yang mengkonfirmasi bahwa Federal Reserve milik Amerika akan menaikkan bunga pada Maret dan Juni. Tidak hanya Indonesia, negara maju dan berkembang lainnya pun terkena dampak dari rencana tersebut.

    Mirza menjelaskan, di antara mata uang negara maju yang ikut melemah adalah dolar Kanada yang melemah 3,6 persen, krona Swedia yang melemah 4,9 persen, serta dolar Australia yang juga melemah 3,6 persen.

    Sedangkan untuk negara berkembang, selain rupiah Indonesia, rupee India ikut melemah 2,4 persen. Hal yang sama juga terjadi pada mata uang Filipina, peso, yang melemah 1,5 persen.

    Rupiah Indonesia sendiri pada pasar spot pada siang hari ini, 2 Maret 2018, pukul 11.21 WIB, melemah 9 poin atau 0,07 persen ke level Rp 13.757 per dolar AS. Sebelumnya, pada pukul 08.00 WIB, nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat 8 poin atau 0,06 persen ke level Rp 13.740 per dolar AS.

    Rupiah diprediksi akan kembali menguat hari ini setelah dalam sesi perdagangan kemarin, 1 Maret 2018, menyentuh level Rp 13.800.

    Bank Indonesia menyebutkan fluktuasi ini bersifat sementara. Pasalnya saat ini pasar sedang melakukan penyesuaian dengan rencana penambahan bunga oleh Amerika tersebut.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Lengkap Tim Piala Thomas dan Uber Indonesia 2018

    Persatuan Bulu Tangkis Indonesia mengumumkan tim Indonesia yang akan berlaga di Piala Thomas dan Uber, digelar di Bangkok, Thailand, 20-27 Mei 2018.