BEI Sebutkan 3 Tantangan Pelaku Pasar Modal Indonesia di 2018

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio di Gedung BEI,  Jakarta Selatan, 28 Agustus 2017. Alfan Hilmi

    Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio di Gedung BEI, Jakarta Selatan, 28 Agustus 2017. Alfan Hilmi

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio memaparkan sejumlah tantangan yang harus dihadapi pelaku pasar modal di tahun 2018 ini. Tantangan itu berasal dari dalam maupun luar negeri.

    Pertama, keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve atau The Fed, untuk menaikkan suku bunga acuan. Kebijakan ini diyakini akan berdampak pada perekonomian global, termasuk di Indonesia.

    "Tapi saya percaya mereka tidak akan menaikkan suku bunga dua kali," katanya di Jakarta, Senin, 22 Januari 2018.

    Baca juga: OJK Siapkan Instrumen Baru Pasar Modal Tahun Depan

    Kedua, agresivitas negara tetangga, terutama Cina dan Arab Saudi, untuk mendatangkan perusahaan berkapitalisasi besar untuk melantai di bursa.

    Jika pasar modal Indonesia diam, maka kedua negara itu secara tidak langsung akan mendelusi market cap Indonesia yang saat ini berada di kisaran Rp 7.250 triliun.

    Ketiga, porsi investasi yang masuk ke Indonesia, dikaitkan dengan sejumlah agenda yang akan dihelat pada tahun ini, di antaranya adalah pilkada serentak dan Asian Games.

    Tito menjelaskan, secara historical pemilu tidak akan mengganggu stabilitas pasar modal, setidaknya sejak 2009 silam. Namun yang menjadi kekhawatiran adalah adanya kemungkinan penarikan uang secara besar-besaran.

    Baca juga: Tutup Tahun, BEI Catat Investasi Domestik Naik Rp 340 Triliun

    "Pertanyaannya, bagaimana jika di saat bersamaan ada penarikan uang yang besar. Bersamaan dengan Lebaran, liburan, pelaksanaan piala dunia dan Asian Games," ujarnya.

    Namun demikian Tito tetap optimistis. Setidaknya dua faktor tidak perlu dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas pasar modal, yakni pelaksanaan pilkada serentak dan Asian games. Menurutnya, negara penyelenggara Asian games justru akan mengalami perbaikan ekonomi.

    Apalagi, kata dia, tata kelola manajemen fiskal telah membaik. Perbandingan suku bunga acuan atau BI rate dengan inflasi juga membaik, cadangan devisa bagus, serta seluruh data perekonomian juga positif. "Kalau ekonomi baik, emiten bagus, orang (investor) pasti akan masuk," ucapnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.