Kapasitas Berlebih, Industri Semen Belum Tergiur Genjot Ekspor

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi semen. ANTARA/Noveradika

    Ilustrasi semen. ANTARA/Noveradika

    TEMPO.CO, Jakarta - Berlebihnya kapasitas semen di dalam negeri tak lantas membuat kalangan produsen mengalihkan penjualan ke pasar ekspor. Produsen semen nyatanya masih memprioritaskan penjualan produk ke pasar domestik.

    Direktur Utama PT Semen Baturaja, Rahmad Pribadi, menyatakan, kelebihan kapasitas semen di Indonesia tak serta merta membuat pabrikan mengalihkan penjualan ke pasar ekspor. “Kami masih utamakan pasar lokal di Sumatera, karena harga jualnya jauh lebih baik daripada dilepas ke pasar ekspor,” ujarnya, Senin, 25 September 2017.

    Baca: Bahas Proyek Semen di Rembang, Sutiyoso Temui Luhut

    Selain itu, ketatnya persaingan industri semen di pasar regional memaksa produsen domestik membanting harga saat melepas produknya ke pasar ekspor.

    Menurut Rahmad, seluruh produsen semen belum mengkapitalisasi pasar domestik dengan baik meski terjadi kelebihan pasokan sejak 2 tahun belakangan. Salah satunya penyebabnya adalah sebaran pabrik-pabrik yang kurang merata dan terus terpusat di Jawa dan Sumatera. “Akhirnya masing-masing cenderung memperkuat positioning di homebase-nya.”

    PT Semen Baturaja dalam hal ini memfokuskan penetrasi penjualan pada area selatan Sumatra karena permintaan semen pada area Sumatra Selatan, Lampung, Bengkulu, dan Jambi mencapai 6 juta ton. Sementara itu, pasokan semen di Sumatra hanya dipasok perseroan dengan kapasitas 3,85 juta ton. “Dengan kapasitas terpasang yang ada sekarang pun kami belum mampu penuhi 100 persen permintaan di homebase kami,” ujarnya.

    Sebelumnya, konsumsi semen nasional melanjutkan tren positif pada Agustus 2017 yang didorong permintaan di Jawa dan kawasan Indonenesia Timur. 

    Widodo Santoso, Ketua Asosiasi Semen Indonesia, mengatakan konsumsi semen pada Agustus 2017 tercatat sebesar 6,47 juta ton atau tumbuh sebesar 9 persen secara tahunan (year on year). Pada bulan sebelumnya, konsumsi semen berada di angka 5,59 juta ton.

    Secara kumulatif, penjualan semen domestik sepanjang Januari 2017 hingga Agustus 2017 tercatat sebesar 41,1 juta ton atau meningkat 5,6 persen year on year.

    "Konsumsi semen nasional mulai menggeliat di semua daerah, kecuali Kalimantan dan Nusa Tenggara yang mengalami penurunan. Pembangunan infrastruktur di Jawa, Sumatra, Sulawesi dan Indonesia Timur  kelihatan mulai lancar," ujar Widodo.

    Apabila dirinci, Jawa mencatatkan pertumbuhan konsumsi semen paling besar pada Agustus 2017, yakni sebesar 14 persen year on year, disusul kawasan Indonesia Timur sebesar 12,6 persen. Konsumsi di Sulawesi dan Sumatra tercatat masing-masing sebesar 11 persen dan 5 persen secara tahunan.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut Gojek.