Kinerja Sektor Migas di Riau Meningkat 5 Tahun Terakhir  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Sue Ogrocki

    AP/Sue Ogrocki

    TEMPO.COJakarta - Pemerintah Provinsi Riau mencatat, kinerja sektor minyak bumi di daerah itu terus menunjukkan peningkatan selama lima tahun terakhir, meski harga minyak bumi sempat anjlok ke level terendah.

    Dominasi sektor migas terhadap perekonomian daerah sesuai dengan produk domestik regional bruto (PDRB) daerah itu tercatat mencapai 24,73 persen pada 2011 dan terus meningkat pada 2012 mencapai 25,46 persen.

    Adapun pada 2013 mencapai 26,57 persen, 2014 mencapai 27,53 persen, dan 2015 mencapai 28,26 persen. Pada tahun ini, pertumbuhan diprediksi menyentuh 29 persen meski pemerintah belum merilisnya secara resmi.

    Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman mengatakan kinerja migas menunjukkan tren positif hingga tahun ini meski harga gas sempat jatuh ke level terendah. Sejumlah perusahaan juga belum melakukan eksplorasi dengan memaksimalkan sumur-sumur yang ada.

    “Tahun ini, dominasi migas akan tercatat meningkat menjadi sekitar 29 persen. Tahun depan akan meningkat mencapai 30 persen,” kata Andi Rachman, Rabu, 21 Desember 2016.

    Riau merupakan daerah sentra minyak bumi dan gas dengan persentase mencapai 40 persen dari produksi migas nasional. Riau memiliki 8 blok migas dengan beberapa kontraktor kontrak kerja sama dari beberapa perusahaan luar negeri dan dalam negeri.

    Beberapa perusahaan itu adalah PT Chevron Pacific Indonesia, PT Pertamina, PT Energi Mega Persada, juga perusahaan daerah, seperti PT Bumi Siak Pusako dan PT Sarana Pembangunan Riau Langgak.

    Pemprov Riau mencatat total produksi migas di Riau mencapai 133 juta barel selama satu tahun.

    Andi Rachman mengatakan perusahaan migas di Riau harus proaktif kepada pemerintah agar pencapaian produksi bisa tercapai sesuai dengan target lifting yang ditetapkan SKK Migas. Lifting migas nasional ditargetkan meningkat pada tahun depan dibanding tahun ini yang hanya 825 ribu BPH.

    Namun Riau yang masih bergantung pada minyak bumi harus mampu mengurangi ketergantungannya pada sektor tersebut. Sebab, harga minyak masih fluktuatif dan masih bergantung pada pasar internasional.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.