OPEC Pangkas Produksi Minyak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kantor OPEC di Wina, Austria. REUTERS/Leonhard Foeger

    Kantor OPEC di Wina, Austria. REUTERS/Leonhard Foeger

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada Rabu, 28 September 2016, waktu setempat, OPEC akhirnya bersepakat memangkas produksi minyaknya pada tingkat moderat yang merupakan pertama kali terjadi sejak 2008 setelah pemimpin organisasi ini, Arab Saudi, melembutkan pendiriannya terhadap seterunya, Iran, di tengah meningkatnya tekanan akibat harga minyak yang rendah.

    "OPEC telah membuat keputusan istimewa hari ini. Setelah dua setengah tahun, OPEC mencapai konsensus untuk mengelola pasar," ucap Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh, yang berulang kali silang pendapat dengan Saudi pada pertemuan sebelumnya.

    Dia dan para menteri lain mengatakan OPEC akan mengurangi output sampai 32,5-33,0 juta barel per hari. OPEC memperkirakan tingkat output saat ini adalah 33,24 juta barel per hari.

    "Kami telah memutuskan mengurangi produksi sekitar 700 ribu barel per hari," ujar Zanganeh.

    Langkah ini akan secara efektif mengembalikan kuota produksi OPEC yang ditinggalkan tahun lalu.

    Namun berapa banyak setiap negara akan memproduksi minyak akan diputuskan dalam pertemuan resmi OPEC pada November mendatang, di mana OPEC juga akan meminta negara-negara non-OPEC, seperti Rusia, menempuh langkah serupa.

    Harga minyak melonjak 5 persen di atas US$ 48 per barel. Banyak pelaku pasar menyatakan terkesan pada keputusan OPEC yang berhasil mencapai konsensus setelah bertahun-tahun silang pendapat. Namun pasar menginginkan melihat detail kesepakatan.

    "Ini pertama kalinya OPEC bersepakat dalam delapan tahun! Kartel ini telah membuktikan masih penting! Ini akhir perang produksi, dan OPEC dinyatakan menang," tutur Phil Flynn, analis energi senior pada Price Futures Group, seperti dilansir Reuters.

    ANTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.