Nilai Rupiah Makin Terpuruk di Hadapan Dolar Amerika Serikat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas money changer menghitung mata uang dolar. Rupiah semakin tertekan terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat, di level Rp14.060 per Dolar AS. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    Petugas money changer menghitung mata uang dolar. Rupiah semakin tertekan terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat, di level Rp14.060 per Dolar AS. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Dolar Amerika Serikat kembali menguat terhadap rupiah, Selasa (15 September 2015) petang. Kurs ditutup dengan nilai Rp14.398/dolar Amerika Serikat dari semula Rp14.333/dolar Amerika Serikat. 

    Pengamat Pasar Uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova, di Jakarta, Selasa, mengatakan, meski data neraca perdagangan Indonesia mencatatkan hasil surplus pada Agustus. 

    Namun belum mampu mengangkat nilai tukar rupiah bergerak menguat terhadap dolar AS, hal itu karena pelaku pasar uang sedang fokus menanti kebijakan the Fed mengenai rencananya untuk kenaikan suku bunganya (Fed fund rate).

    Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2015 surplus sebesar 433,8 juta dolar AS, yang dipicu surplus sektor nonmigas sebesar 1,01 miliar dolar AS meskipun sektor migas mengalami defisit 580 juta dolar Amerika Serikat.

    "Pelaku pasar menanggapi netral hasil kinerja neraca perdagangan Indonesia. Diharapkan the Fed segera memutuskan rencananya untuk menaikan suku bunga," ujar Nova.

    Menurut dia, jika The Fed menaikan suku bunganya maka potensi rupiah melemah lebih dalam cukup terbuka hingga menyentuh level Rp15.000 per dolar AS, namun koreksi itu hanya bersifat sementara karena pelaku pasar akan kembali mencermati fundamental ekonomi domestik.

    "Fundamental ekonomi Indonesia masih prospektif untuk mencatatkan pertumbuhan menyusul percepatan anggaran belanja modal pemerintah untuk pembangunan infrastruktur," katanya.

    Di sisi lain, lanjut dia, Bank Indonesia juga sudah menyiapkan kebijakannya salah satunya melalui pengendalian volatilitas nilai tukar rupiah dan memelihara kepercayaan pasar terhadap pasar surat berharga negara (SBN) melalui pembelian di pasar sekunder.

    Selain itu, lanjut dia, BI juga mengambil kebijakan mengubah mekanisme lelang sertifikat deposito Bank Indonesia (SDBI) dari variable rate tender menjadi fixed rate tender dan menyesuaikan pricing SDBI serta menerbitkan SDBI tenor enam bulan.

    Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia, Selasa (15 September 2015), mencatat nilai tukar rupiah bergerak melemah menjadi Rp14.371 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp14.322 per dolar Amerika Serikat.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.