Soal Go-Jek, Jonan: Sulit Memberikan Izin

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengemudi Go-Jek wanita bernama Christina Helen, berfoto selfie sambil menunggu panggilan penumpang di Bandung, 15 Agustus 2015. Pengemudi yang disebut Srikandi Go-Jek ini dapat meraup 9 hingga 13 juta per bulan dari mengojek. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Pengemudi Go-Jek wanita bernama Christina Helen, berfoto selfie sambil menunggu panggilan penumpang di Bandung, 15 Agustus 2015. Pengemudi yang disebut Srikandi Go-Jek ini dapat meraup 9 hingga 13 juta per bulan dari mengojek. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menilai aspek legal aplikasi transportasi seperti Go-Jek atau GrabBike sulit dilakukan. “Kita tidak bisa menerbitkan sepeda motor pelat kuning karena dari segi safety itu sudah tidak mungkin,” ucap Jonan dalam seminar transportasi yang dihelat di Indonesia International Motor Show 2015 siang tadi.

    Menurutnya transaksi yang terjadi antara pengendara dan penumpang tidak lebih dari kesepakatan pribadi. Itu artinya sama saja dengan keberadaan ojek pangkalan yang biasa bertransaksi dengan penumpangnya. Hanya saja medium transaksi pada fenomena ini menggunakan aplikasi ponsel pintar.

    Absennya regulasi pada bisnis aplikasi transportasi sebenarnya menguntungkan masyarakat. Tarif yang terjangkau dan mobilitas yang tinggi menjadi alasan makin menjamurnya pengguna jasa dan pengendaranya.

    Sampai saat ini belum terlihat upaya serius pemerintah untuk mengatur secara detail operasional kendaraan roda dua ini. Sedangkan ketidaksukaan pengemudi angkutan lain seperti bus kota, angkutan kota, bajaj, taksi, dan terutama kalangan ojek pangkalan semakin mengembang ke permukaan.

    BINTORO AGUNG S.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.