10 Ribu Investor Baru Tumbuh Seiring Hadirnya BEI Palembang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pialang memantau pergerakan saham saat peringatan '38 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia' di Gedung Bursa Efek Jakarta, 10 Agustus 2015. Acara dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad dan para pelaku pasar modal. TEMPO/Subekti.

    Sejumlah pialang memantau pergerakan saham saat peringatan '38 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia' di Gedung Bursa Efek Jakarta, 10 Agustus 2015. Acara dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad dan para pelaku pasar modal. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pertumbuhan investor pasar modal di Palembang diyakini akan bertambah hingga 10 ribu investor baru seiring kehadiran kantor perwakilan Bursa Efek Indonesia di kota tersebut.

    Pelaksana Harian (Plh) Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Palembang, Early Saputra, mengatakan pihaknya akan berupaya optimal untuk menggenjot pertumbuhan investor di Palembang.

    “Idealnya setiap ada kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di situ pula BEI harus hadir, kami yakin bisa mengembangkan market di Palembang,” katanya saat acara CSR HUT Pasar Modal ke-38 di SMA Negeri 5 Palembang, Selasa, 11 Agustus 2015.

    Dia mengatakan saat ini terdapat 6.000–7.000 investor pasar modal di Palembang. Sementara hingga semester I/2015 pihaknya mencatat terdapat penambahan jumlah investor sebanyak 1.300 investor.

    Menurut Early, untuk mengoptimalkan penetrasi investor lokal, BEI juga sudah merancang berbagai program.

    Salah satunya adalah bekerja sama dengan perusahaan sekuritas dan perguruan tinggi di Palembang.

    “Kami sudah ada kerja sama dengan dua perguruan tinggi, yaitu Universitas Charitas dan STMIK MDP, harapannya akan ada investor baru yang muncul dari kerja sama ini,” katanya.

    Early mengemukakan selama mengejar pertumbuhan jumlah investor, pihaknya juga sering menemukan kendala, yang paling utama adalah masih adanya trauma dari masyarakat yang tertipu investasi bodong.

    “Terakhir ada yang investasi bodong yang sudah menipu hingga Rp 1,2 triliun jadi membuat trauma masyarakat sehingga banyak yang cari aman,” katanya.

    Padahal, lanjut Early, jika masyarakat lebih memahami investasi di pasar modal akan lebih aman apalagi saat ini dana penjaminan investor sudah dinaikkan maksimal Rp 100 juta dari sebelumnya hanya Rp 25 juta.

    Dia menambahkan, kendala pengembangan pasar modal di daerah juga menyangkut ketersediaan sumber daya manusia (SDM) khususnya di perusahaan sekuritas.

    Direktur PT Penilai Niaga Efek Indonesia (Indonesian Bond Pricing Agency/IBPA) Wahyu Tringgono menambahkan, profesional di pasar modal daerah memang masih terbatas.

    “Memang harus ada persyaratan—persyaratan untuk menjadi professional di perusahaan sekuritas makanya perlu edukasi dari awal tentang pasar modal,” katanya.

    Menurut Wahyu, literasi pasar modal di Sumatera Selatan memang masih sangat kecil dibanding perbankan.

    “Sehingga banyak yang tidak bisa bedakan jenis investasi, oleh karena itu kami ingin menjemput bola, salah satunya dengan mendatangi 18 kota di Indonesia saat momen HUT pasar modal,” ujarnya.

    Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan OJK Sumatera Selatan Patahuddin mengatakan sampai sekarang memang tidak ada laporan keluhan terkait dengan pasar modal di Palembang.

    “Paling banyak keluhan soal perbankan sementara terkait pasar modal hampir tidak ada,” katanya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?