Memprihatinkan, Bea Masuk Indonesia Terendah di Dunia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro terlihat berbincang saat pengumuman harga Bahan Bakar Minyak di Kementerian Kordinator Perekonomian, Jakarta, 31 Desember 2014. TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro terlihat berbincang saat pengumuman harga Bahan Bakar Minyak di Kementerian Kordinator Perekonomian, Jakarta, 31 Desember 2014. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menilai kenaikan bea masuk salah satunya bertujuan untuk melindungi industri dalam negeri. Namun rata-rata tarif bea masuk Indonesia terendah di dunia. Rata-rata tarif bea masuk 8,3 persen, naik lebih tinggi dari sebelumnya, yakni 7,3 persen.

    "Menurut saya ini masih rendah," kata Menteri Bambang saat ditemui di kantornya, Senin, 27 Juli 2015. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 132/PMK.010/2015 mengenai penetapan tarif bea masuk berlaku efektif pada 23 Juli 2015. Ada kurang lebih sebanyak 1.500 barang yang dikenai kenaikan bea masuk.

    Bambang menuturkan kebijakan untuk menaikkan bea masuk barang-barang impor tidak terkait dengan isu proteksi. Kebijakan yang akan berlaku September mendatang itu dapat memperkuat industri dalam negeri.

    Beberapa barang itu adalah kopi impor dengan tarif bea masuk menjadi 20 persen. Teh impor dikenai bea masuk menjadi 20 persen, daging diolah atau diawetkan dengan bea masuk 30 persen, dan ikan-ikanan dengan rata-rata bea masuk 15-20 persen.

    Minuman fermentasi dari buah anggur segar termasuk minuman fermentasi yang diperkuat menjadi 90 persen. Minuman etil alkohol yang tidak didenaturasi dengan kadar alkohol kurang dari 80 persen, seperti wiski, brandy, rum, dan lainnya dikenai tarif bea masuk paling tinggi, yaitu 150 persen dari harga dasar. Sedangkan minuman anggur (wine) dikenai tarif bea masuk sebesar 90 persen.

    Makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi sehari-hari tak luput dari obyek pengenaan tarif bea masuk, seperti kopi dan teh impor yang dikenai bea masuk sebesar 20 persen dari harga dasar. Berikut ini daftar barang impor yang masuk dalam obyek bea masuk plus persentase bea yang terbaru menurut peraturan baru itu: 

    1. Kopi (20 persen)
    2. Teh (20 persen)
    3. Sosis/daging olahan (30 persen)
    4. Daging/darah yang diawetkan (30 persen )
    5. Ikan diolah/diawetkan (15 persen)
    6. Krustasea, moluska, dan invertebrata air olahan/diawetkan (15 persen)
    7. Permen karet (20 persen)
    8. Cokelat (15 persen)
    9. Pasta/mi (20 persen)
    10. Makanan sereal (10 persen)
    11. Roti/kue kering (20 persen)
    12. Sayuran, buah, kacang (20 persen)
    13. Ekstrak kopi/teh (20 persen)
    14. Saus dan olahannya (15 persen)
    15. Es krim (15 persen)
    16. Olahan makanan lain (tempe) (15 persen)
    17. Minuman ringan-air mineral/soda (10 persen)-minuman pop non-soda (20 persen)
    18. Wine anggur (90 persen)
    19. Vermouth dan minuman fermentasi anggur lainnya (90 persen)
    20. Minuman sari buah (90 persen)
    21. Minuman etil alkohol dengan kadar alkohol kurang dari 80 persen (brandy, wiski, rum dan lain-lain) (150 persen)
    22. Cat lukis seniman 10 persen
    23. Preparat kecantikan (kosmetik kulit, bibir, mata, menikur pedikur): 15 persen
    24. Preparat digunakan untuk rambut (sampo) 15 persen
    25. Preparat kesehatan gigi dan mulut (pasta gigi): 15 persen
    26. Preparat mencukur/deodoran: 15 persen
    27. Sabun, produk dan preparat aktif-permukaan organik: 10 persen
    28. Bahan aktif permukaan organik (selain sabun), preparat aktif permukaan 10 persen
    29. Poles dan krim untuk alas kaki, perabotan, lantai, coachwork, kaca atau logam, pasta dan bubuk penggosok: 15 persen
    30. Lem olahan dan perekat olahan lainnya: 10 persen
    31. Korek api: 15 persen
    32. Fero-cerium dan paduan piroforik lainnya dalam segala bentuk: 10 persen
    33. Film fotografi dalam gulungan, peka cahaya, tidak dlsinari, dari bahan apa pun selain kertas, kertas karton atau tekstil: 5 persen
    34. Bak mandi, pancuran untuk mandi, bak cuci, wastafel, bidet: 15 persen
    35. Perangkat makan, perangkat dapur, peralatan rumah tangga lainnya dan peralatan toilet dari plastik: 20%
    36. Perangkat bangunan dari plastik (tangki, reservoir air): 20 persen
    37. Barang lain dari plastik dan barang dari bahan lain (perlengkapan sekolah, kantor: 15-20 persen
    38. Barang higienis atau farmasi (termasuk dot, kondom), dari karet divulkanisasi: 10 persen
    39. Pakaian dan aksesoris pakaian (termasuk sarung tangan, mitten (sarung tangan bedah, pakaian selam): 10 persen
    40. Barang lain dari karet divulkanisasi selain karet keras. (mat, ubin, penghapus): 15 persen
    41. Saddlery dan harness untuk semua macam binatang (termasuk tali kekang, kekang, penutup lutut, penutup mulut, tutup sadel): 20 persen
    42. Pakaian dan aksesoris pakaian, dari kulit samak atau dari kulit komposisi: 12,5-15 persen
    43. Pakaian, aksesoris pakaian dan barang lainnya dari kulit berbulu: 15 persen
    44. Bulu artifisial dan barang terbuat dari padanya untuk industri dan olahraga: 20 persen
    45. Bingkai kayu untuk lukisan, foto, cermin atau benda semacam: 20 persen
    46. Perangkat makan dan perangkat dapur dari kayu; 15 persen
    47. Tatakan kayu dan kayu bertatah, kotak dan peti untuk perhiasan atau barang tajam dan barang semacam itu, dari kayu; patung dan ornamen lainnya dari kayu: 25 persen
    48. Anyaman dan produk semacam bahan anyaman, strip maupun tidak (dari rotan, bambu): 25 persen
    49. Keranjang, barang anyaman dan barang lainnya, dibuat secara langsung menjadi berbentuk dari bahan anyaman atau dibuat (dari bambu, rotan): 25 persen
    50. Benang (selain benang jahit) dari serat stapel buatan, disiapkan untuk penjualan eceran: 7,5 persen
    51. Benang pintal, tali, tambang atau kabel: 7,5 persen
    52. Karpet dan penutup lantai tekstil lainnya, rajutan sudah jadi maupun belum: 22,5-25  persen
    53. Karpet dan penutup lantai tekstil lainnya (sajadah, karpet alas mobil): 22,5-25 persen
    54. Mantel panjang, car-coat, jubah bertopi, jubah, anorak (termasuk jaket-ski), wind-cheater, wind-jaket: 25 persen.
    55. Setelan, ensemble, jas, blazer, celana panjang, pakaian terusan berpenutup di depan dan bertali, celana panjang sampai lutut dan celana pendek (selain pakaian renang) untuk pria atau anak laki-laki, rajutan atau kaitan: 20-25 persen
    57. Blus, kemeja dan kemeja blus, untuk wanita atau anak perempuan, rajutan atau kaitan. (Bahan kapas, serat buatan): 25 persen
    58.Celana kolor, celana dalam, kemeja tidur, piama, pakaian, mandi, dressing gown dan barang semacam itu, untuk pria atau anak laki-laki, rajutan atau kaitan: 25 persen
    59. Rok dalam, petticoat, celana dalam, panty, gaun malam, piama, gaun rumah, pakaian mandi dressing gown untuk wanita: 25 persen
    60. T-shirt, singlet dan kaus kutang lainnya, rajutan atau kaitan: 25 persen
    61. Jersey, pullover, cardigan, rompi rajutan atau kaitan: 20-25 persen
    62. Garmen dan aksesori pakaian untuk bayi, rajutan atau kaitan: 25 persen
    63. Track suit, ski suit dan pakaian renang, rajutan atau kaitan: 25 persen
    64. Syal, scarf, muffler, mantilla, veil dan sejenisnya dari bahan sutra: 22,5-25 persen
    65. Pakaian bekas

    ALI HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.