Citilink Segera Tunjuk Pengganti Arif Wibowo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • CEO Citilink Indonesia Arif Wibowo. TEMPO/Aditia Noviansyah

    CEO Citilink Indonesia Arif Wibowo. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Tangerang - Arif Wibowo mesti melepas jabatannya sebagai Kepala Eksekutif (CEO) Citilink lantaran ditunjuk menjadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero). Dengan demikian, saat ini kursi orang nomor satu di Citilink kosong dan mesti segera diisi. (Baca: Emir Mundur, Bagaimana Nasib Saham Garuda?)

    Ditemui setelah mengikuti rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Garuda City Center, Arif mengatakan sudah mempersiapkan kandidat penggantinya sebagai pimpinan tertinggi Citilink. Namun Arif enggan membocorkan nama-nama kandidat penggantinya. "Tunggu saja. Nanti, dalam waktu sehari-dua hari, akan diumumkan," ujarnya, Jumat, 12 Desember 2014.

    Arif mengucapkan terima kasih kepada komisaris karena telah diberikan kepercayaan memimpin Garuda. "Saya bangga mendapatkan kepercayaan menjadi bagian dari tim direksi Garuda," tuturnya. (Baca: Emirsyah Satar: Tahun Depan, Garuda Tetap Rugi)

    Bagi Garuda, Arif bukan orang baru. Juru bicara Garuda, Pujobroto, mengatakan Arif sudah berpengalaman di Garuda sejak mengurus manajemen teknisi pesawat pada 1990-1994. Karier terakhir Arif sebelum menjadi bos Citilink adalah Executive Vice President Marketing and Sales Garuda Indonesia.

    Selain memimpin Citilink, Arif juga menjadi Ketua Asosiasi Maskapai Penerbangan (INACA). Kami optimistis Garuda bisa kembali terbang tinggi karena Pak Arif sangat berpengalaman," ujar Pujobroto. (Baca: Harga Minyak Turun, Saham GIAA Cerah pada Akhir Tahun)

    NURIMANJAYABUANA

    Berita Terpopuler
    Pemred Jakarta Post Jadi Tersangka Penistaan Agama 
    Benarkah Hitler Sesungguhnya Hidup di Sumbawa?
    Munir Dibunuh karena Sejumlah Motif, Apa Saja?

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.