Harga Emas Anjlok di Bawah Rp 950.000 per Gram, Bagaimana Proyeksi ke Depan?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menunjukkan contoh emas yang dijual di butik emas Antam Mall Ambasador, Jakarta, Selasa, 2 Juli 2019. Harga emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam melemah Rp5.000 per gram, yakni dari Rp699 ribu menjadi Rp694 ribu per gram, pada Selasa (2/7). Dengan demikian, harga logam mulia turun Rp11 ribu dalam dua hari berturut-turut. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas menunjukkan contoh emas yang dijual di butik emas Antam Mall Ambasador, Jakarta, Selasa, 2 Juli 2019. Harga emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam melemah Rp5.000 per gram, yakni dari Rp699 ribu menjadi Rp694 ribu per gram, pada Selasa (2/7). Dengan demikian, harga logam mulia turun Rp11 ribu dalam dua hari berturut-turut. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga emas dunia yang jeblok hingga di bawah US$ 1.800 per troy ounce seiring optimisme pelaku pasar terhadap prospek pemulihan ekonomi, diikuti dengan penurunan harga emas di dalam negeri. Saat ini harga logam mulia tersebut sudah dibanderol di bawah Rp 950.000 per gram.

    Data Bloomberg menunjukkan harga emas Comex untuk kontrak Februari 2021 turun 1,28 persen secara harian ke level US$ 1.788,10 per troy ounce. Bila dibandingkan pada rekor tertinggi pada Agustus 2020 lalu, harga emas kala itu mencapai US$ 2.000 per ounce, harga emas saat ini sudah sangat merosot. 

    Terkait hal ini, analis OANDA Craig Erlam memperkirakan harga emas yang menyentuh di bawah level kunci US$ 1.800 per troy ounce bakal memicu aksi jual. "Kemungkinan harga akan menguji level US$ 1.750, saat kami memiliki alasan fundamental yang kuat seperti vaksin," ucapnya. 

    Indeks dolar AS yang jatuh, menurut dia, biasanya mendukung emas. Tetapi analis pasar percaya hal itu tidak berdampak pada logam mulia karena investor telah menggunakan dolar AS sebagai tempat berlindung yang aman yang mirip dengan emas selama pandemi Covid-19.

    Semakin membebani emas, pasar saham  AS berpacu ke rekor tertinggi di tengah optimisme vaksin. Investor juga berani bertaruh perdagangan global lebih tenang di bawah pemerintahan Joe Biden yang baru terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.