Melonjak Kasus Covid Dinilai Menjadi Sebab Asing Kabur dari Pasar Modal

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas pergerakan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 10 September 2020. Penurunan IHSG siang ini merupakan penurunan terendah selama sepekan. Tempo/Tony Hartawan

    Aktivitas pergerakan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 10 September 2020. Penurunan IHSG siang ini merupakan penurunan terendah selama sepekan. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee berujar sudah 16 pekan investor asing melakukan penjualan di pasar modal Tanah Air. Artinya, dana asing terus keluar dari bursa saham Indonesia.

    "Salah satu faktor yang diperkirakan membuat dana asing keluar adalah penanganan covid 19 yang lemah dan kasus baru yang terus naik," ujar Hans dalam keterangan tertulis, Ahad, 27 September 2020.

    Pada pekan ini, kata dia, tercatat jual bersih asing adalah Rp 2,17 triliun. Sementara selama tiga bulan terakhir, asing tercatat melakukan penjualan Rp 28,39 triliun dan apabila dilihat sejak awal tahun, asing tercatat keluar Rp 58,42 triliun.

    Hans mengatakan kondisi ini tidak baik karena investor asing memiliki 49,95 persen saham non warkat atau scripless di Bursa Efek Indonesia, berdasarkan catatan KSEI. "Terlihat investor lokal cukup kuat mengangkat indeks di tengah tekanan jual asing, tetapi tidak tahu sampai berapa lama," ujar dia.

    Menurut dia, para investor asing memperhatikan penanganan Covid-19 di Tanah Air. Salah satunya jumlah pengetesan di Indonesia yang masih rendah hanya 11.560 orang per 1 juta populasi. Angka itu, tuturnya, jauh di bawah Filipina yang 32.672 orang per 1 juta populasi, serta Amerika Serikat yang mencapai 309.524 orang per 1 juta penduduk.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.