Pembiayaan Utang Melonjak, Sri Mulyani: APBN Kita Sangat Berat

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi Wamenkeu Suahasil Nazara mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2020. Dalam raker tersebut, Sri Mulyani dan Komisi Xi membahas Laporan Keuangan Kementerian Keuangan pada APBN 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi Wamenkeu Suahasil Nazara mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2020. Dalam raker tersebut, Sri Mulyani dan Komisi Xi membahas Laporan Keuangan Kementerian Keuangan pada APBN 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan secara keseluruhan realisasi pembiayaan anggaran hingga Agustus 2020 sudah mencapai Rp 667,81 triliun. Realisasi pembiayaan anggaran terutama bersumber dari pembiayaan utang.

    Pembiayaan utang hingga akhir Agustus 2020 telah mencapai Rp 693,6 triliun atau 56,8 persen dari target Rp 1.220,5 triliun untuk keseluruhan tahun. "APBN kita luar biasa berat dan ini terlihat dari sisi pembiayaan," ujar Sri Mulyani dalam konferensi video, Selasa, 22 September 2020.

    Pembiayaan utang tersebut dilakukan untuk menambal defisit APBN 2020 yang sudah lebih dari Rp 500 triliun. Hingga saat ini, pemerintah sudah menerbitkan Surat Berharga Negara secara neto sebesar Rp 671,6 triliun dan menarik pinjaman Rp 22 triliun. "Ini kenaikan luar biasa untuk SBN kita yaitu 131 persen dibanding tahun lalu yang hanya Rp 290,7 triliun," kata Sri Mulyani.

    Adapun total pembelian SBN oleh Bank Indonesia sebagai implementasi SKB I sampai dengan bulan Agustus mencapai Rp 45,326 triliun. Sedangkan, berdasarkan SKB II, pemerintah telah menerbitkan SBN melalui Private Placement kepada BI untuk pembiayaan public goods sebesar Rp 99,08 triliun dan untuk alokasi non-public goods telah terealisasi sebesar Rp 44,38 triliun.

    Selain pembiayaan utang, pemerintah juga telah merealisasikan pengeluaran pembiayaan investasi sebesar Rp 27,25 triliun kepada BUMN, BLU dan lembaga/badan lainnya sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional.

    Sri Mulyani sebelumnya mengatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hingga 31 Agustus 2020 telah mencapai Rp 500,5 triliun atau 3,05 persen dari Produk Domestik Bruto.

    "Ini adalah kenaikan defisit yang sangat besar dibanding tahun lalu yang sebesar Rp 197,9 triliun," ujar dia. Ia mengatakan situasi tersebut perlu dijaga pemerintah, meskipun saat ini yield Surat Berharga Negara tengah mengalami penurunan.

    Sri Mulyani berujar pendapatan negara hingga akhir bulan lalu baru mencapai Rp 1034,1 persen atau 60,8 persen dari target pemerintah di Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2020. Realisasi pendapatan tersebut turun 13,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 1.190 triliun.

    Dari sisi belanja negara, pemerintah sudah membelanjakan Rp 1.534,7 triliun atau 56 persen dari alokasi yang dianggarkan dalam Perpres 72/2020. Kenaikan belanja ini adalah 10,6 persen dibandingkan tahun lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Antisipasi Penyebaran Wabah Covid-19 Saat Maulid Nabi

    Untuk menekan penyebaran wabah Covid-19, pemerintah berupaya mencegah kerumunan dalam setiap kegiatan di masyarakat, termasuk kegiatan keagamaan.