Awal Perdagangan, Rupiah Melorot ke Rp 16.505 per USD

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Uang Rupiah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

    Ilustrasi Uang Rupiah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka di zona merah dengan pelemahan 55 poin atau 0,33 persen ke level Rp 16.505 per dolar AS pada perdagangan Kamis 2 April 2020. Sehari sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp 16.450 per dolar AS. 

    Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim memprediksi, perdagangan rupiah hari ini kemungkinan masih melanjutkan tren pelemahan. Dia memperkirakan, rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.400 hingga Rp 16.700 per dolar AS, pada perdagangan hari ini.

     

    "Tekanan global masih cukup kuat walaupun pemerintah dan Bank Indonesia terus membuat terobosan-terobosan melalui strategi bauran guna untuk menekan melemahnya ekonomi akibat dari pandemi virus corona tersebut," kata Ibrahim seperti dikutip Bisnis, Kamis. 

    Faktor eksternal yang mempengaruhi pergerakan rupiah hari ini adalah data manufaktur dari Asia dan Eropa yang menunjukkan perlambatan ekonomi yang parah ketika kawasan mencoba untuk memerangi pandemi virus corona.

     

    Goldman Sach juga merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi AS menjadi minus 34 persen secara annualized (kuartalan yang disetahunkan) pada kuartal I/2020. Meski begitu, Goldman Sach memperkirakan pemulihan akan terjadi secara bertahap mulai Mei atau Juni.

    Dari sisi domestik, rilis data IHS Markit melaporkan PMI Indonesia pada Maret 2020 adalah 45,3, turun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 51,9. Angka ini sekaligus menjadi yang terendah sepanjang sejarah pencatatan PMI yang dimulai pada April 2011.

    Kondisi yang serba tak menentu akibat pandemi global telah mendorong terjadinya gejolak ekonomi yang tidak biasa. Oleh karena itu, pemerintah dan juga Bank Indonesia (BI) mempersiapkan langkah antisipasi bersama melalui kebijakan luar biasa yang diatur lewat Perpu No.1 tahun 2020 tentang kebijakan keuangan dalam rangka menghadapi ancaman COVID-19.

    Dalam UU Bank Indonesia diatur bahwa BI tidak boleh membiayai defisit fiskal, namun di kondisi tidak normal yang menyebabkan defisit fiskal yang besar BI dimungkinkan untuk menyerap kebutuhan defisit fiskal melalui membeli SUN dan SBSN di pasar perdana.

    BISNIS 

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.