Rupiah Jeblok, Eksportir Otomotif Tak Lantas Diuntungkan

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mesin robot menyelesaikan perakitan mobil Suzuki Ertiga di Pabrik Suzuki Cikarang, Bekasi, Senin 19 Februari 2018. TEMPO/Wawan Priyanto

    Mesin robot menyelesaikan perakitan mobil Suzuki Ertiga di Pabrik Suzuki Cikarang, Bekasi, Senin 19 Februari 2018. TEMPO/Wawan Priyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor atau Gaikindo Yohannes Nangoi menilai jebloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat belakangan ini tak lantas membuat eksportir otomotif bungah.

    Sebab, di saat yang bersamaan, kata Yohannes, industri otomotif juga tengah menghadapi dampak dari pandemi virus Corona (Covid-19). Masifnya penyebaran virus ini membuat banyak negara tujuan ekspor mengurangi permintaan impor.

    "Yang ekspor akan diuntungkan, tapi ekspornya terpengaruh karena semua negara kena Covid-19 jadi turun juga. Negara yang impor (dari Indonesia) juga kesulitan, jadi ekspornya terganggu," kata Yohannes, Senin, 23 Maret 2020.

    Sementara itu, kata Business Innovation and Marketing & Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy menilai penguatan kurs dollar AS membuat ekspor komponen menjadi lebih kompetitif. "Dan bisa menambah pendapatan dari ekspor," tuturnya

    Sementara itu, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmy Suwandi menyebut pihaknya terus memantau pelemahan kurs rupiah. Sejumlah langkah pun disiapkan untuk menyikapi pelemahan nilai tukar rupiah yang hampir menyentuh Rp 17.000 ini per dolar AS.

    "Kami monitor dan kalau terjadi dalam waktu lama (pelemahan rupiah), mau tidak mau ada perhitungan ulang untuk harga ke depannya," ucap Anton.

    Hingga kini, menurut Anton, Toyota masih belum memutuskan apakah akan menaikkan harga mobilnya di pasar dalam negeri. Dia mengatakan pihaknya masih melihat tren dari pelemahan nilai tukar ini.

    Kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan ini terperosok hingga ke level Rp 16.575 per dolar AS akibat sentimen wabah virus corona Covid-19 yang makin meluas. Rupiah ditutup melemah 615 poin atau 3,85 persen menjadi Rp 16.575 per dolar AS dari sebelumnya Rp 15.960 per dolar AS.

    "Yang belum terdeteksi kemungkinan terinfeksi Covid-19 di Tanah Air masih cukup banyak, sehingga wajar kalau arus modal kembali keluar dari pasar dalam negeri dan imbasnya IHSG dan mata uang garuda terus tersungkur," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Senin, 23 Maret 2020.

    Berdasarkan data di laman covid19.go.id, jumlah kasus positif virus Corona per 23 Maret 2020 mencapai 579 kasus. Sebanyak 30 pasien sembuh dan 49 meninggal dunia.

    Adapun pada siang hari ini nilai tukar rupiah sedikit menguat. Nilai tukar rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) berada di posisi Rp 16.486 per dolar AS, menguat 0,7 persen dari perdagangan sebelumnya Rp 16.608 per dolar AS.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.