Harga Apartemen di Jakarta Melejit, Bagaimana Nasib Milenial?

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mengamati maket apartemen dalam pameran Real Estate 2008 di JCC, Minggu (26/10). Pengembang berlomba menawarkan apartemen, perkantoran dan rumah hunian dengan diskon menarik dan kemudahan pembayaran. TEMPO/Puspa Perwitasari

    Pengunjung mengamati maket apartemen dalam pameran Real Estate 2008 di JCC, Minggu (26/10). Pengembang berlomba menawarkan apartemen, perkantoran dan rumah hunian dengan diskon menarik dan kemudahan pembayaran. TEMPO/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga riset properti Jakarta Property Institute mencatat bahwa survei yang dilakukan kepada milenial menunjukkan ada sejumlah faktor yang menentukan keinginan untuk tinggal di apartemen yang ada di Jakarta. Alasan itu antara lain adalah lokasi tempat tinggal, biaya transportasi, dan waktu tempuh yang minim.

    Minat kalangan milenial untuk tinggal di hunian vertikal atau apartemen semakin tinggi. Besarnya kebutuhan untuk memiliki hunian di pusat kota dinilai menjadi salah pemicunya.

    Berdasarkan survei Jakarta Property Institute (JPI) terhadap 300 orang responden yang tersebar di seluruh Jabodetabek, ditemukan peminat apartemen di pusat kota Jakarta dari kalangan milenial mencapai 54 persen. "Berbeda dengan generasi sebelumnya, ternyata generasi milenial lebih siap tinggal di hunian vertikal," kata Direktur Program Jakarta Property Institute (JPI) Mulya Amri saat melakukan paparan di Jakarta, Kamis 5 Maret 2020.

    Namun, pada kenyataannya tak semua milenial yang memiliki keinginan untuk tinggal di apartemen bisa langsung membeli atau menyewa apartemen. Pasalnya, harga apartemen yang terjangkau di Jakarta sudah sangat minim. Harga apartemen juga terus melejit dari waktu ke waktu. 

    Padahal, berdasarkan hasil survei, 82 persen responden hanya memiliki kemampuan mencicil apartemen yang terbatas, yakni di angka Rp 3 juta per bulan. Lebih tepatnya, 54 persen ingin membayar Rp 1-3 juta dan 28 persen kemampuan membayarnya di bawah Rp1 juta per bulan.

    Pengembang swasta berusaha menyediakan apartemen terjangkau contohnya di daerah Kemayoran dipatok Rp 380 juta hingga R p667 juta. Dengan harga jual tersebut, nilai cicilannya akan berada di kisaran Rp3,8 juta - Rp6,6 juta per bulan untuk tenor 15 tahun.

    Besaran cicilan tersebut pun ternyata dinilai masih di luar kemampuan 82 persen responden milenial. Adapun, rusunami DP nol rupiah yang dibangun oleh Pemerintah DKI Jakarta yaitu Rusunami Klapa Village di Jakarta Timur dijual Rp184 juta - Rp300 juta dengan cicilan kredit sekitar Rp 2,4 juta per bulan untuk tenor 15 tahun. "Penyediaan hunian terjangkau di kota memang harus didukung oleh kebijakan dan subsidi pemerintah" ujar Mulya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.