Februari 2020, Realisasi Serapan B30 Baru 8,2 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menunjukkan perbedaan bahan bakar diesel dari mulai B0, B20, B30 dan B100 saat peluncuran road test B30 di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis, 13 Juni 2019. Penggunaan B30 bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor dan menyediakan BBM yang lebih ramah lingkungan. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas menunjukkan perbedaan bahan bakar diesel dari mulai B0, B20, B30 dan B100 saat peluncuran road test B30 di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis, 13 Juni 2019. Penggunaan B30 bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor dan menyediakan BBM yang lebih ramah lingkungan. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan realisasi penyerapan produk bauran biodiesel 30 persen atau B30 hingga 12 Februari 2020 mencapai 8,2 persen atau 787,2 ribu kiloliter, dari target tahun 2020 sebesar 9,6 juta.

    Kasubdit Keteknikan dan Lingkungan Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Effendi Manurung mengatakan angka tersebut merupakan gabungan dari realisasi B30 untuk bulan Januari dan Februari. "Kalau realisasi di bulan Februari saja sebesar 10 persen Karena digabung dengan Januari jadi realisasi keseluruhan menjadi 8,2 persen dari target untuk 2020," kata dia di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa 25 Februari 2020.

    Dia mengatakan dari total produksi minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO), yang terpakai untuk B30 hanya 17 persen atau sekitar sembilan juta ton.

    Sedangkan produksi CPO sepanjang Januari hingga Oktober 2019 mencapai 44 juta ton. Dan akan dialokasikan untuk produksi B50 di tahun 2021 sebanyak 14 juta ton atau 26 persen.

    "Masih banyak sisa minyak kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri lainnya," ujar Effendi.

    Dia pun menuturkan, dengan terus digenjotnya hilirisasi CPO menjadi produk biodiesel harapannya dapat mendongkrak harga jual olahan kelapa sawit tersebut. Sehingga juga berkontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

    "Dengan adanya implementasi biodiesel harapannya  meningkatkan stabilitas harga CPO san meningkatkan kesejahteraan 1,2 juta petani sawit," ucapnya.

    Di samping itu, ia berharap juga akan ada peningkatan devisa negara, sebesar Rp13,8 triliun dari produk biodiesel, setelah sebelumnya hanya dari CPO saja memperoleh devisa sebesar Rp63 triliun.

    Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan mengimplementasikan program biodiesel 40 persen atau B40 selambat-lambatnya pada Juli 2021. Saat ini, pemerintah tengah merampungkan roadmap yang dirancang khusus untuk mengakselerasi terselenggaranya program tersebut. 

    "Kami harapkan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) akan segera melakukan uji coba agar Juli 2021 bisa segera diimplementasikan," ujar Airlangga di kantor BPPT pada Senin, 24 Februari 2020. 

    Program B40 dirancang untuk mengurangi defisit neraca perdagangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS, posisi neraca perdagangan pada Januari 2020 mengalami defisit sebesar US$ 864 juta atau US$ 0,86 miliar.

    Dalam rangka mengurangi ketergantungan impor, selain menyiapkan program B40, pemerintah turut merancang program mandatory B30. Program ini digadang-gadang dapat menyerap minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) hingga 10 juta kiloliter. Seumpama berhasil, industri hilirisasi berbasis CPO ditengarai akan menghemat devisa mencapai US$ 8 miliar. 

    EKO WAHYUDI l FRANCISCA CHRISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.