BKPM: Investasi Rp 16 T Hilang Akibat Rumor TKA Cina di Meikarta

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia usai konferensi pers di kantornya di Jakarta Selatan, Kamis, 31 Oktober 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia usai konferensi pers di kantornya di Jakarta Selatan, Kamis, 31 Oktober 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    Tempo.Co, Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut Indonesia kehilangan investasi Cina hingga Rp 16 triliun di proyek Meikarta, Bekasi, Jawa Barat. Penyebabnya adalah pemberitaan yang terus menerus soal keberadaan ribuan Tenaga Kerja Asing (TKA) Cina di proyek tersebut.

    “Padahal, jumlahnya hanya sekitar puluhan orang,” kata anggota Komite Investasi BKPM Rizal Calvary Marimbo dalam konferensi pers di Kantor BKPM, Jakarta Selatan, Senin, 17 Februari 2020.

    Awalnya, investor Cina ini mau menggelontorkan dana Rp 20 triliun. Tapi karena pemberitaan ini terus diangkat, hanya Rp 4 triliun saja uang investasi yang terealisasi. “Kita kehilangan peluang sekarang, banyak sekali sekian triliun, hanya karena kasus kemarin itu,” kata dia.

    Isu ini pertama kali dilontarkan oleh Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Budiyanto yang berasumsi ada ribuan TKA Cina di proyek apartemen Meikarta. Temuan itu diperolehnya setelah ikut dinas kesehatan melakukan pemeriksaan kesehatan pekerja asing di proyek milik Lippo Group tersebut. Namun hal ini telah dibantah oleh manajemen Meikarta, lewat PT Mahkota Sentosa Utama.

    Sementara itu, Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bekasi tak bisa memastikan apakah ada ribuan tenaga kerja asing atau TKA Cina di proyek Meikarta. Sejauh ini dinas mencatat jumlah tenaga kerja asing dari berbagai negara di wilayahnya mencapai 2.016 orang.

    Menurut data dinas ketenagakerjaan, TKA paling banyak berasal dari Jepang yang mencapai seribu lebih pekerja. TKA terbanyak kedua dari Korea Selatan, dan ketiga dari Cina sebanyak 246 orang. "Selebihnya dari sejumlah negara di Asia, Eropa, dan lainnya," kata Suhup.

    Untuk itu, Rizal berharap kejadian seperti ini  tidak terulang kembali. Menurut dia, jika kinerja investasi Indonesia bagus, industrialisasi berjalan dengan baik, pertumbuhan ekonomi bagus, maka perusahaan akan makin banyak di Indonesia. “Otomatis banyak nanti pemasang-pemasang iklan gitu,” kata dia.

    Tapi jika industri di Indonesia suram dan orang orang asing lari dari Indonesia. “Maka kemudian akan terjadi terjadi capital outflow,” kata dia. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.