Harga Komoditas Turun, Pertumbuhan Ekonomi Papua Minus 16 Persen

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berpidato dihadapan peserta Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan Silahturahmi Nasional Bank Wakaf Mikro 2019 di Jakarta, Selasa 10 Desember 2019. Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan Silahturahmi Nasional Bank Wakaf Mikro 2019 tersebut dihadiri oleh Kepala Daerah se Indonesia. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berpidato dihadapan peserta Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan Silahturahmi Nasional Bank Wakaf Mikro 2019 di Jakarta, Selasa 10 Desember 2019. Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan Silahturahmi Nasional Bank Wakaf Mikro 2019 tersebut dihadiri oleh Kepala Daerah se Indonesia. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Papua minus 16 persen selama 2019. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berdalih, situasi ini terjadi karena harga komoditas yang turun.

    “Terutama komoditas tembaga, ya tentu nanti kami lihat ke depannya, kan ada beberapa proyek,” kata Airlangga saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat, 7 Februari 2020.

    Menurut Airlangga Hartarto, sejumlah proyek baru ini nantinya akan menghasilkan pendapatan yang lebih seimbang bagi daerah Papua. “Sehingga tidak sepenuhnya tergantung pada tembaga,” kata dia.

    Rabu 5 Februari 2020, BPS mengumumkan ekonomi Maluku dan Papua anjlok drastis, yakni hingga minus 7,4 persen. Penurunan terjadi saat daerah lain justru menikmati pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen.

    Kepala BPS Suhariyanto mengatakan penurunan drastis ini terjadi karena perekonomian di Papua yang lesu Sebab, PT Freeport Indonesia belum bisa berproduksi secara maksimal. “Di Papua, ekonominya terkontraksi sampai 16 persen,” kata dia.

    Tak hanya ekonomi yang tumbuh minus, kontribusi Maluku dan Papua terhadap ekonomi Indonesia juga paling kecil, yaitu hanya 2,24 persen. Kontribusi tertinggi tetap dari Jawa, yakni sebesar 59 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Banjir Jakarta, Bolak-Balik Terendam Akibat Cuaca Ekstrem

    Banjir Jakarta bolak-balik terjadi. Kali ini akibat cuaca ekstrem. BPBD sebut 10,74 persen RW di ibu Kota terdampak.