Ekspor Naik, Neraca Perdagangan RI Oktober Surplus USD 161,3 juta

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengamati bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT), Jakarta, 26 April 2017. Surplus neraca perdagangan Maret 2017 tercatat sebesar 1,23 miliar dolar AS, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan surplus Februari 2017. ANTARA/M Agung Rajasa

    Pekerja mengamati bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT), Jakarta, 26 April 2017. Surplus neraca perdagangan Maret 2017 tercatat sebesar 1,23 miliar dolar AS, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan surplus Februari 2017. ANTARA/M Agung Rajasa

    Tempo.Co, Jakarta - Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat posisi neraca perdagangan pada Oktober 2019 mengalami surplus sebesar US$ 161,3 juta atau US$ 0,16 miliar. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan neraca perdagangan terpengaruh oleh turunnya nilai impor migas dan non-migas yang tajam sepanjang Oktober.

    "Diperkirakan sebelumnya mengalami defisit, tapi ternyata kita surplus pada bulan Oktober,” ujar Suhariyanto di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat, 15 November 2019. 

    Menurut paparan BPS, nilai impor pada Oktober 2019 ialah sebesar US$ 14,77 miliar atau naik 3,57 persen ketimbang September 2019. Impor migas pada bulan lalu hanya mencapai US$ 1,75 miliar. Sedangkan impor non-migas mencapai US$ 13,02 miliar. 

    Suhariyanto menerangkan, penurunan impor terjadi untuk barang konsumsi, bahan baku atau penolong, dan barang modal sangat dalam. "Yang perlu menjadi catatan surplus ini tercipta bukan karena ekspor naik, tapi ekspor turun dan impor turun lebih dalam," kata dia.

    Sementara itu, nilai ekspor pada Oktober tercatat sebesar US$ 14,93 miliar atau mengalami naik sebesar 5,92 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Suhariyanto menuturkan ekspor migas hanya mencapai US$ 926 juta, sedangkan non-migas US$ 14 miliar. 

    Sebelumnya BPS mencatat nilai neraca perdagangan pada September 2019 mengalami defisit sebesar US$ 0,16 miliar atau US$ 160,5 juta. Defisit ini terjadi karena defisit perdagangan di sektor minyak dan gas (migas).

    Kepala BPS Suhariyanto mengatakan sepanjang September, neraca migas tercatat defisit sebesar US$ 761,8 juta. Sedangkan sektor non migas masih mengalami surplus sebesar US$ 601,3 juta. "Tentu nilai angka neraca perdagangan ini, akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang akan dilihat selama Juli Agustus dan September tahun ini," kata Suhariyanto saat konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa 15 Oktober 2019.

    Pada Agustus 2019, BPS mencatat nilai neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 85,1 juta atau US$ 0,08 milIar. Neraca perdagangan pada bulan itu dipengaruhi turunnya nilai impor migas dan non-migas yang tajam sepanjang Agustus. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.