Bidik E-Commerce, PT Pos Luncurkan Aplikasi Q-COMM

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung PT Pos Indonesia

    Gedung PT Pos Indonesia

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pos Indonesia (Persero) meluncurkan produk khusus bagi pebisnis online bernama Q-COMM atau Quick Commerce. Aplikasi ini diklaim memiliki tiga keunggulan yang dibutuhkan e-commerceyakni ambil paket gratis atau pick up gratis, resi otomatis serta COD menggunakan pos giro mobile.

    Direktur Komersial Pos Indonesia (Posindo) Charles Sitorus menuturkan, bagi para pelaku bisnis e-commerce, aspek kecepatan, keamanan, fitur Cash On Delivery (COD) dan kepraktisan pengiriman barang adalah hal utama. 

     

    "Memahami kebutuhan itu, Pos Indonesia memberikan solusi bagi para pelaku bisnis online dengan meluncurkan layanan Q-COMM. Jadi ini milik e-commerce, memang para pembeli di online butuh cepat 2 hari sampai," kata Charles dalam peluncuran produk tersebut di Jakarta, Rabu 6 November 2019.

    Q-COMM adalah layanan pengiriman paket antarkota dalam Pulau Jawa dengan volue pengiriman hingga 5 kilogram. Adapun waktu pengiriman dijanjikan maksimal 2 hari sejak pelanggan mengirimkan di loket.

    Menurut Charles, pebisnis e-commerce dapat mengirimkan paket Q-COMM di seluruh Kantor Pos maupun Agen pos di seluruh Pulau Jawa. Layanan ini juga dilengkapi dengan pickup service oleh O-Rangers.

    Tidak hanya itu, layanan Q-COMM ini memiliki nilai plus lainnya antara lain penginmai paket bebas antre dengan menggunakan aplikasi Quick Online Booking (QOB) yang dapat dilakukan melalui website. Adapun layanan Cash On Delivery (COD) dinilai dapar memberikan rasa aman. Para pelaku e-commerce nantinya akan dilengkapi dengan aplikasi PosGiro mobile untuk pengaturan layanan keuangannya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.